LUWUK TIMES, Banggai – Proses penilaian penghargaan bagi kelompok tani berprestasi dalam program kerja sama PT. Panca Amara Utama (PAU) dan Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan (TPHP) Kabupaten Banggai berlangsung ketat. Metode penilaian yang digunakan secara berlapis. Dengan menitikberatkan pada kapasitas kelembagaan hingga dampak ekonomi kelompok tani.
Dari total 26 kelompok tani yang mengikuti kompetisi, hanya lima kelompok terbaik yang berhasil lolos ke tahap akhir penilaian.
Mereka adalah Poktan Srikandi Mandiri Kecamatan Nambo, Lembah Longkida II Kecamatan Luwuk Selatan, Sampuun Maroso Kecamatan Batui, Tani Pemuda Peduli Pangan Kecamatan Nambo, dan Kelompok Wanita Tani (KWT) Anggrek Kecamatan Kintom.
Kepala Bidang Hortikultura Dinas TPHP Kabupaten Banggai, Irul Mambuhu, menjelaskan, penentuan pemenang tidak dilakukan secara sederhana. Tim penilai menerapkan dua metode utama yang kemudian diakumulasikan menjadi nilai akhir masing-masing kelompok.
Metode pertama menggunakan lima instrumen penilaian kelas kemampuan kelompok tani.
Instrumen tersebut meliputi kemampuan merencanakan program, mengorganisasikan kegiatan, melaksanakan program kerja, melakukan pengendalian dan pelaporan, serta mengembangkan kepemimpinan dalam kelompok.
Selain itu, tim penilai juga menerapkan metode kedua berupa delapan aspek monitoring yang menjadi indikator keberhasilan kelompok tani dalam menjalankan usahanya.
Aspek tersebut mencakup kelembagaan, keanggotaan, produksi pertanian, sarana dan prasarana, permodalan, pemasaran, kemandirian, hingga dampak ekonomi yang dihasilkan bagi anggota maupun masyarakat sekitar.
“Dua metode penilaian itu kami akumulasikan untuk menentukan peringkat kelompok tani terbaik,” ujar Irul kepada Luwuk Times, Senin (8/6/2026).
Persaingan antarkelompok tani berlangsung sangat kompetitif. Poktan Srikandi Mandiri dari Desa Nambo Lempek berhasil meraih posisi pertama dengan nilai 430.
Hanya unggul satu poin dari Poktan Lembah Longkida II Desa Bubung yang memperoleh nilai 429.
Posisi ketiga ditempati Poktan Sampuun Maroso dari Desa Nonong, Kecamatan Batui, dengan nilai 413.
Sementara Poktan Tani Pemuda Peduli Pangan dari Desa Nambo Lempek berada di peringkat keempat dengan nilai 312, disusul KWT Anggrek dari Kecamatan Kintom pada posisi kelima dengan nilai 276.
Peluang Besar

Menariknya, menurut Irul, Poktan Alika Jaya sebenarnya berpeluang besar menjadi salah satu pemenang.
Kelompok tani asal Kecamatan Nambo itu berhasil mengumpulkan nilai 408 dari lima instrumen penilaian kemampuan kelompok tani.
Namun peluang tersebut sirna karena kelompok tersebut tidak mengikuti penilaian pada delapan aspek monitoring yang menjadi bagian penting dalam perhitungan nilai akhir.
“Sebenarnya mereka bisa menjadi pemenang. Hanya saja mereka absen pada penilaian delapan aspek monitoring,” ungkap Irul.
Dalam kesempatan itu, Irul juga mengungkapkan bahwa tidak semua peserta mendapatkan apresiasi.
Dari 26 kelompok tani peserta, dua kelompok justru menerima sanksi karena dinilai tidak aktif dalam menjalankan program yang telah diberikan.
Kedua kelompok tersebut adalah Poktan Lamo dan Poktan Uso di Kecamatan Batui. Sebagai konsekuensinya, Dinas TPHP menarik kembali fasilitas yang sebelumnya dipercayakan untuk dikelola oleh kedua kelompok tersebut.
Meski demikian, Dinas TPHP memastikan keberlanjutan program tetap berjalan karena telah tersedia kelompok tani pengganti yang siap melanjutkan pengelolaan dan pengembangan kegiatan pertanian di wilayah tersebut. *
Sofyan Labolo

