Langit di atas wisata Kilometer 5, Kecamatan Luwuk Kabupaten Banggai, perlahan berubah muram. Jarum jam baru saja melewati pukul 11.20 WITA pada Minggu siang itu, ketika rintik gerimis seolah bersiap turun.
Satu per satu pengunjung mulai berbenah. Mereka melangkah tergesa meninggalkan bibir pantai untuk beranjak pulang.
Namun, di sudut beton trotoar yang mulai dingin, riuh kepulangan itu tak membuat seorang wanita paruh baya bergeming.
Ia duduk tenang bersama anak gadisnya. Berteman sebuah mobil hitam dengan bagasi belakang yang terbuka lebar. Di dalam bagasi itulah, dapur kehidupan mereka digelar.
“Ada jual kopi?” tanya seorang pengunjung yang kebetulan melintas, memecah sunyi.
“Ada,” jawab wanita itu ramah, segaris senyum langsung terbit di wajahnya yang mulai dihiasi garis-garis usia.
Wanita itu adalah Ma Ita. Di usianya yang menginjak 49 tahun, saat sebagian orang mungkin memilih untuk beristirahat di rumah menikmati hari tua bersama tiga cucunya, Ma Ita justru memilih jalanan sebagai panggung perjuangan.
Sudah dua tahun terakhir, mobil hitam seken yang dibelinya di Gorontalo menjadi saksi bisu kegigihannya.
Bagi Ma Ita, mobil itu bukanlah simbol kemewahan atau alat untuk bergaya di jalanan kota.
Mobil tua itu adalah tumpuan harapan, sebuah toko berjalan yang menghidupi keluarganya.
Isi bagasinya adalah cerminan dari kreativitas tanpa batas.
Hari itu di Kilometer 5, ia menggelar kopi hangat, makanan ringan, aneka minuman segar, hingga menyewakan benen (ban dalam untuk berenang) seharga Rp15.000 hingga Rp20.000.
Namun di hari lain, isi mobil itu bisa berubah drastis menjadi lapak parfum atau tumpukan buah-buahan segar.
Ma Ita adalah seorang pejuang yang dinamis. Ketika Sabtu dan Minggu usai di Kilometer 5, roda mobilnya akan kembali berputar.
Ia berpindah dari riuhnya Pasar Simpong, menanjak ke kawasan Halimun, menyisir area Adipura, hingga menembus jarak ke Pasar Gori-Gori di Batui.
“Jenis jualan juga menyesuaikan tempat,” ungkap Ma Ita hangat.
Di balik kemudi hidupnya, ia tak sendiri. Sang suami, seorang mantan sopir truk, menjadi pelindung setianya.
Kemampuan sang suami memotong biaya perawatan dengan memperbaiki sendiri setiap kerusakan mobil, menjadi berkah tersendiri di tengah himpitan ekonomi yang kian mencekik.
Perjuangan di bawah langit mendung hari itu berbuah manis.
Jika beruntung, sore hari ia bisa membawa pulang selembar demi selembar rupiah hingga mencapai Rp300.000.
Angka yang teramat berarti untuk menyambung dapur tetap mengepul.
Di akhir percakapan siang itu, Ma Ita menitipkan sebuah pesan sederhana namun sarat makna.
“Kita harus kreatif. Dan yang terpenting jangan malu. Kita kan mencari yang halal,” ucapnya menutup hari, saat langit Luwuk semakin abu-abu, namun semangat di dadanya tetap menyala terang. *
Sofyan Labolo
