Coffee Shop Di Belanda

oleh -261 Dilihat
oleh
Supriadi Lawani

Oleh: Supriadi Lawani


MENURUT kawan saya yang pernah ke Belanda, yang pasti bukan Aip Saifullah yang sekarang sudah jadi warga Belanda tapi teman yang lain yang namanya te mau dibilang.

Oke sa langsung saja, jadi begini!

Di Belanda, khususnya di kota-kota besar seperti Amsterdam ada kedai namanya coffee shop.

Tapi hati-hati itu bukan tempat ngopi. Sa ulangi: bukan. Itu tempat beli dan hisap ganja secara legal.

Tapi tenang, ngana te bisa sembarang juga. Beli ada batasannya, hisap ada aturan.

BACA JUGA:  Logika “Sudah Tapi Belum” dalam Politik Penghargaan Pahlawan Kita

Te boleh hisap di sekolah, rumah sakit, atau tempat umum. Persis rokok—boleh, asal tau diri.

Jadi jika disana nga bisa hisap ganja sambil manyanyi “no woman no cry”.

Santai dan rileks!

Bisa juga sambil nonton “mens rea” stand up komedi nya Panji di Netflix sambil ketawa-ketawa tunggu mengantuk. Iya mengantuk!!

Di sana, ganja te diperlakukan kayak monster jahat. Negara te panik. Negara atur.

Beda den Indonesia. Di sini, ganja itu levelnya sudah jadi musuh negara.

BACA JUGA:  Ideologi, Sudah Tapi Belum: Negara Gagap Dihadapan Beras 30 Ton

Hisap sedikit, ngana bisa pindah rumah ke penjara belasan sampe puluhan tahun.

Daun ini jika di Indonesia kalau nga simpan kon hisap adalah kejahatan kelas berat. Jangan coba – coba. Mo tua di lapas ngana.

Padahal Belanda bukan satu-satunya. Canada , Italia, Jerman juga sudah santai. Ganja dipandang sebagai tanaman.

Daun yang bisa bikin rileks, bisa jadi obat. Bukan barang setan yang bikin negara murka. Iya , itu disana.

Lucunya, ganja di mana-mana sama. Daunnya te berubah. Yang beda cuma hukum.

BACA JUGA:  Polisi Aktif di Jabatan Sipil dan Sikap Pemerintah yang Setengah Hati

Di suatu negara, diatur sebagaimana mestinya. Di negara lain, dijadikan alasan buat kasih penuh lapas.

Jadi jelas, ini bukan soal ganja. Ini soal cara negara menilanya. Ada negara yang percaya rakyatnya bisa diatur. Ada juga yang dari awal sudah curiga.

Daun yang sama. Tapi nasibnya beda jauh. Tergantung ngana hidup di negara yang santai atau negara yang kalo dengar kata cimeng langsung bilang:

“Tangkap dulu, urusan belakangan.” *

Penulis adalah petani pisang