Close ADS

Opini

Jalan Menurun Jurnalisme Kita (Bagian 1)

755
×

Jalan Menurun Jurnalisme Kita (Bagian 1)

Sebarkan artikel ini

Oleh: A.S. Laksana

RIWAYAT pers Indonesia sebelum reformasi 1998 adalah riwayat tegang antara hasrat untuk bebas dan kehendak untuk mengekang. Pada masa Orde Lama, ketika bulan madu antara pers dan pemerintahan republik yang masih berusia muda berakhir, pemerintah tercatat melakukan pemberedelan lebih dari seratus kali.

Harian “Indonesia Raya” dibredel lima kali dan Mochtar Lubis, pemimpin redaksinya, harus mendekam pula dalam penjara.

Pada masa Orde Baru, pemerintah menjadikan dirinya kuat dan menyeramkan dan rakyat terus-menerus diperlemah; jurnalisme kita harus bekerja sangat hati-hati jangan sampai ada berita yang membuat pemerintah tidak senang.

Media massa harus menyensor diri sendiri untuk bertahan hidup di bawah tekanan politik dan kontrol pemerintah yang sangat kuat terhadap pers dan kebebasan berbicara.

Baca:  Prioritas Penggunaan Dana Desa Dimasa Pandemi Covid-19

Beberapa alasan bisa diajukan tentang praktek self-censorship oleh media massa. Pertama, intimidasi dan tekanan terhadap jurnalis, dan itu berarti ancaman kekerasan menjadi praktek yang lazim.

Sejumlah kasus penganiayaan terhadap wartawan, yang sebagian di antaranya berujung pada kematian, terjadi karena mereka menulis berita yang tidak disukai pemerintah atau korporasi atau pihak-pihak yang dekat dengan pemerintah—baik di level pusat maupun daerah.

Kedua, kebijakan “pembinaan pers”, yang berarti pers harus menuliskan berita-berita tidak membuat pemerintah marah.

Ketiga, ekonomi dan ketergantungan media terhadap para pengiklan besar, yang rata-rata dekat dengan pemerintah.

Baca:  Selamatkan Generasi dengan Islam

Keempat, media massa yang dianggap bandel oleh pemerintah bisa dimatikan sewaktu-waktu dengan pencabutan Surat Izin Usaha Penerbitaan Pers (SIUPP). Karena itu semakin besar sebuah media, semakin ketat ia menyensor dirinya sendiri.

Setelah Orde Baru ditumbangkan oleh gerakan reformasi, 1998, pers kita mendapatkan apa yang diidam-idamkan sejak lama, ialah kebebasan.

Tetapi tiga dekade mengembangkan perilaku menyensor diri bagaimanapun membawa risiko serius terhadap jurnalisme kita, bahkan setelah pemerintahan yang mengekang tumbang dan kita mendapatkan kebebasan sepenuhnya.

Problem utamanya adalah sumber daya manusia di bidang jurnalistik tidak berkembang secara
optimum. Ada kelemahan dari sisi penulisan, ada kelemahan dari sisi kemampuan meliput.