

“Terjadi kenaikan pemotongan, berimplikasi pula pada retribusi daerah. Tahun ini saja kami terbebani target PAD sebesar Rp. 651 juta,” ujar Sayuti Maula kepada Luwuk Times, Rabu (26/10/22).
Bibit Ternak
Sayuti menjelaskan, naiknya angka pemotongan hewan, selain konsumsi akan daging meningkat, ternak lokal tersedia dan adanya tambahan bibit ternak dari luar daerah.
“Biasa ada program bantuan ternak, baik lewat APBD maupun APBN. Untuk pengadaannya kami mencari bibit unggul dari luar sebesar 1.872 ekor. Sehingga secara keseluruhan ternak bertambah,” ucapnya.
Pada tahun 2021 saja, kebutuhan daging dalam daerah tidak begitu tinggi. Makanya hanya sebesar 1.843 terpotong. Tapi paling banyak ternak memenuhi permintaan luar.
“Tahun 2021, sebanyak 2.248 ekor sapi keluar daerah. Jadi ada yang masuk, ada juga sapi keluar daerah. Sisanya untuk memenuhi kebutuhan lokal,” imbuhnya.
Menyangkut kesehatan hewan, pihaknya terus intens mengawasi. Termasuk melalukan faksin bagi hewan hewan dalam upaya menangkal Penyakit Mulut dan Kuku (PMK).
“Kami intens mengawasi. Ini untuk menjaga terinfeksinya penyakit PMK. Sehingga stok sapi kedepan akan tetap stabil dan memenuhi kebutuhan,” tandasnya.*
Dapatkan informasi lainnya di googlenews, KLIK: Luwuk Times
Discussion about this post