Close

Merajut Harapan di Desa Siuna, Saat Tambang dan Warga Duduk Bersama

Sofyan139 dilihat
Pj. Kepala Desa Siuna, Meylinda Djafar, SH, (tengah jilbab abu-abu) bersama aparat desa Siuna saat meninjau titik lokasi sumur bor di desa Siuna yang akan menjadi lokasi program PPM PT Bumi Persada Surya Pratama, beberapa waktu lalu. (FOTO: Wawan / PT BPSP)
A-AA+A++

ANGIN malam di Desa Siuna, Kecamatan Pagimana, Kabupaten Banggai, menyimpan cerita tentang sebuah perubahan. Di balik debu jalanan dan deru aktivitas pertambangan yang kerap memicu dinamika di masa lalu, secercah harapan kini tengah dirajut. Bukan lagi dengan unjuk rasa atau ketegangan, melainkan lewat secangkir teh hangat dalam sebuah ruang musyawarah.


WARGA, pemerintah desa dan pihak korporasi akhirnya duduk satu meja. Melalui Musyawarah Desa (Musdes) yang diinisiasi bersama PT Bumi Persada Surya Pratama (PT BPSP), babak baru hubungan kemitraan resmi dimulai. Suasana yang tadinya diwarnai keresahan perlahan mencair berganti dengan dialog konstruktif demi masa depan kampung halaman.

Bagi Pj. Kepala Desa Siuna, Meylinda Djafar, S.H., momen ini adalah momentum penting untuk memastikan suara rakyat kecil tidak hanya didengar, tetapi benar-benar diwujudkan.

Dengan ketegasan seorang pemimpin perempuan, ia memastikan pemerintah desa akan berdiri di garda terdepan mengawal program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM).

“Bukan berarti kami tidak percaya kepada perusahaan, tetapi kami berharap melalui pendampingan bersama ini, setiap program dapat terlaksana dengan berkualitas, tepat waktu, dan tepat sasaran,” ujar Meylinda penuh penekanan.

Dari ruang musyawarah tersebut, denyut kebutuhan warga mulai dipetakan secara nyata. Bukan proyek mercusuar yang muluk-muluk, melainkan hal paling esensial bagi kehidupan sehari-hari, air bersih. Sumur bor baru siap dibangun mulai dari lingkungan Pustu Desa Siuna hingga titik-titik krusial yang selama ini diimpikan warga.

Sentuhan program ini juga merambah ruang sosial-keagamaan lewat pembangunan dapur Pura Eka Khayangan Dharma Kerti di Dusun III, hingga inovasi ekonomi kerakyatan berupa pemanfaatan surplus makanan perusahaan sebagai pakan tambahan ternak warga. Sebuah bukti bahwa pembangunan tidak harus rumit, asalkan tepat sasaran.

Dari pihak perusahaan, Humas PT BPSP Budianto Djafar menyambut baik keterbukaan ini. Ia melihat aspirasi yang lahir dari musyawarah tersebut sebagai cerminan kebutuhan riil di lapangan, bukan sekadar daftar keinginan.

“Apabila terdapat kebutuhan yang sifatnya mendesak, kami akan mengupayakan agar dapat segera direalisasikan. Ini bukan sekadar untuk menjalankan program PPM, tetapi kami juga berharap benar-benar mampu memberikan dampak positif,” ungkap Budianto.

Kini, Siuna sedang belajar merajut kembali rasa percaya yang sempat koyak. Di bawah langit Banggai, desa ini membuktikan bahwa komunikasi yang terbuka adalah kunci utama.

Hubungan antara tambang dan masyarakat bukan lagi soal siapa yang lebih kuat, melainkan bagaimana melangkah bersama demi kesejahteraan yang berkelanjutan. *

Editor Sofyan Labolo

Pasang Iklan Anda Disini_1