LUWUK TIMES, Luwuk — Penangkapan pemakai dan pengedar eceran tampaknya tak lagi cukup untuk meredam kemarahan publik di Kabupaten Banggai. Kinerja jajaran Polresta Banggai dalam memberantas peredaran narkoba kini berada di bawah sorotan tajam. Pasalnya, penindakan hukum dinilai hanya tajam ke bawah tetapi mendadak ‘tumpul’ ketika berhadapan dengan sosok yang diduga sebagai bandar besar.
Kekecewaan masyarakat yang membuncah akhirnya meledak di media sosial. Publik menyuarakan ketidakpercayaan mereka terhadap komitmen aparat penegak hukum setempat yang dinilai enggan menyentuh ‘otak’ di balik hancurnya masa depan generasi muda di Luwuk.
Masyarakat tak lagi sekadar berbisik. Akun Facebook “Kakaknya Al” melontarkan tuduhan mengejutkan secara terbuka.
Tak tanggung-tanggung, akun tersebut membongkar sosok yang disinyalir sebagai bandar sabu di Luwuk.
Mulai dari silsilah keluarga, gaya hidup mewah hasil bisnis haram, hingga informasi pasokan 3 kg sabu yang baru masuk dari Palu.
Lebih menohok lagi, postingan tersebut secara terang-terangan menyentil kepemimpinan Kasat Narkoba Polresta Banggai serta menyinggung dugaan praktik haram dalam penanganan kasus.
“Tolong Polres Luwuk Banggai, apabila tidak ada tindak lanjutnya, terkhusus Kasat Narkoba Pak Hasanuddin, tolong ditindaklanjuti. Sudah banyak bukti yang ada dan sudah beberapa kali ditangkap tapi dilepas, bahkan dicarikan tukar kepala, Pak Kasat Narkoba yang terhormat,” tulis akun tersebut dalam unggahannya.
Ketegasannya tak berhenti di situ. Netizen memberikan ultimatum keras kepada Kapolresta Banggai dan Kasat Narkoba.
Jika penegak hukum di tingkat kabupaten tetap bergeming dan terkesan tebang pilih, mereka menegaskan tidak akan ragu membawa kasus ini ke tingkat yang lebih tinggi.
“Apabila Polresta Banggai tak berani atau tak mampu menindaklanjuti gembong narkoba tersebut, kasus ini akan dilaporkan secara resmi langsung ke Kapolda Sulawesi Tengah,” tulis akun tersebut.
Unggahan viral yang diserbu ratusan komentar tersebut mencerminkan betapa kritisnya tingkat kepercayaan masyarakat terhadap aparat penegak hukum saat ini. Berbagai reaksi pedas membanjiri kolom komentar:
Skeptisme Penegakan Hukum: “Masyarakat yang harus bertindak, karena kalau cuma dilapor ya susah kalau setoran masih lancar…” tulis salah satu netizen.
Medsos Jadi Tumpuan Terakhir: Netizen lain menyesalkan kondisi hukum saat ini dan menyatakan bahwa media sosial kini menjadi satu-satunya benteng pertahanan warga: “Ingat, undang-undang bukan milik rakyat jelata…”
Ancaman Masa Depan Daerah: Warga menegaskan jika gembong narkoba terus dibiarkan menikmati kekebalan hukum, masa depan daerah dan keselamatan generasi penerus bangsa berada di ambang kehancuran.
Kini, bola panas ada di tangan Kapolresta Banggai dan Kasat Narkoba. Publik menunggu pembuktian nyata.
Apakah aparat berani menyikat habis gembong narkoba yang sudah terang-terangan ditunjuk hidungnya oleh warga, atau justru membiarkan spekulasi liar masyarakat terbukti benar. *
Reporter Sofyan Labolo


