LUWUK TIMES, BANDUNG — Operasi hulu minyak dan gas bumi (migas) tidak sekadar berfokus pada pemenuhan target produksi energi, melainkan juga tentang bagaimana menghadirkan dampak positif yang berkelanjutan bagi daerah.
Menyadari peran sinergi lintas sektor, JOB Pertamina-Medco E&P Tomori Sulawesi (JOB Tomori) bersama Pertamina EP Donggi Matindok Field (PEP DMF) menggelar forum bertajuk Executive Strategic Dialogue – Sinergi dan Kolaborasi Hulu Migas.
Mengangkat tema “Membangun Banggai, Mendukung Ketahanan Energi Nasional”, forum strategis ini menjadi wadah penting untuk menyatukan perspektif antara pelaku industri migas, pemerintah daerah, legislatif, regulator, hingga aparat penegak hukum.
Melalui dialog yang inklusif ini, seluruh pemangku kepentingan berkomitmen memperkuat kolaborasi demi kemajuan Kabupaten Banggai dan penopangan ketahanan energi Indonesia.

Acara ini dihadiri oleh jajaran pemangku kepentingan kunci, antara lain Bupati Banggai Amirudin Tamoreka beserta jajaran OPD, Ketua DPRD Banggai Saripudin Tjatjo bersama anggota DPRD, Anggota Komisi XII DPR RI Beniyanto, Kepala SKK Migas Perwakilan Kalimantan Sulawesi Haryanto Syafri, unsur Forkopimda Kabupaten Banggai, serta manajemen JOB Tomori dan PEP DMF.
Hadir pula sebagai narasumber Kepala Kelompok Kerja Pengembangan Masyarakat SKK Migas Roy Widiartha dan Kepala Departemen Formalitas dan Komunikasi SKK Migas Kalsul Wisnu Wardhana.
Dalam diskusi tersebut, isu-isu strategis seputar industri hulu migas dan pembangunan daerah menjadi fokus utama.
Beberapa topik yang dibahas mencakup posisi strategis industri migas di Banggai, dukungan regulasi dan keamanan, hingga program pengembangan masyarakat (PPM) yang menyasar kesejahteraan warga di wilayah penghasil.
Keberlanjutan operasi migas membutuhkan dukungan iklim investasi yang kondusif. Di sinilah sinergi antarinstitusi memegang peranan vital.
Pemerintah Daerah dan DPRD fokus pada pembangunan, kesejahteraan warga, legislasi, serta pengawasan.
Forkopimda juga memastikan keamanan, kepastian hukum, dan kondusivitas wilayah operasi.
Sementara Migas (Regulator) mengawal tata kelola industri hulu migas agar berjalan optimal sesuai aturan.
Selain itu JOB Tomori dan PEP DMF menjalankan operasional secara andal sekaligus memberikan kontribusi nyata bagi daerah.
Melalui komunikasi yang terbuka, setiap pihak dapat bergerak seirama mengatasi tantangan di lapangan demi tercapainya tujuan bersama.
General Manager Zona 13, Andry Sehang, menegaskan bahwa kesamaan persepsi adalah pondasi utama dalam membangun kerja sama yang berdampak panjang.
“Forum ini menjadi ruang penting untuk menyamakan persepsi dan mempertemukan perspektif pemerintah daerah, legislatif, Forkopimda, regulator, serta pelaku industri mengenai peran dan keberlanjutan kegiatan hulu migas di Banggai. Kami berharap dialog ini menjadi dasar untuk memperkuat komunikasi dan kolaborasi antarpemangku kepentingan,” ungkap Andry.
Ia menambahkan, keberlanjutan industri hulu migas di Kabupaten Banggai tidak bisa berdiri sendiri, melainkan butuh komitmen kolektif agar kontribusi terhadap perekonomian lokal dan ketahanan energi nasional terus berlanjut.
“Melalui semangat One Perception, One Commitment, One Action, kami ingin terus membangun langkah bersama yang memberikan kontribusi bagi kemajuan Kabupaten Banggai sekaligus mendukung ketahanan energi nasional,” tutupnya. *












