Bagi sebagian besar remaja di Batui Selatan dan Moilong, Kabupaten Banggai, Jakarta mungkin hanya sebuah kota yang kerap menyapa lewat layar kaca. Namun, pertengahan Juni 2026 menjadi babak baru yang mengubah segalanya.
LANGKAH kaki Afgan Salim Dg. Pasau dan Novita Lambase dari SMK Negeri 1 Batui Selatan, serta Kerin Ayunda Putri dan Tri Haryanto Putra dari SMAN 1 Moilong, mendadak terasa lebih mantap saat mereka menginjakkan kaki di riuhnya ibu kota.
Keempatnya tidak sedang bertamasya. Di pundak mereka, ada harapan besar masyarakat Banggai yang siap digelorakan di panggung nasional.
Mereka adalah potret mutiara daerah yang berhasil menembus ketatnya seleksi Global Future Leaders Network (GFLN) Batch 1 Tahun 2026.
Program bergengsi hasil inisiasi SKK Migas bersama Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS), yang dimotori oleh Yayasan Bina Antarbudaya ini, menjadi kawah candradimuka bagi para calon pemimpin masa depan.
Berkompetisi Lewat Jalur Merit, Bukan Instan
Jalan menuju Jakarta tidak dibentangkan dengan karpet merah. Keempat remaja ini harus melewati saringan ketat berbasis merit (merit-based selection) yang dibuka di seluruh wilayah operasi KKKS di Indonesia.
Mereka diuji bukan hanya dari segi akademis, melainkan juga potensi kepemimpinan, daya adaptasi, motivasi, hingga komitmen terhadap isu-isu pembangunan berkelanjutan.

Dari kompetisi sengit itu, mereka membuktikan diri. Mewakili wilayah operasi JOB Pertamina-Medco E&P Tomori Sulawesi (JOB Tomori), empat delegasi Banggai ini bergabung dengan 34 pelajar terpilih lainnya dari 13 wilayah operasi KKKS se-Indonesia.
Senin, 15 Juni 2026, menjadi momen bersejarah. Di bawah lampu aula Hotel Aston Kartika Grogol, Jakarta, program intensif ini resmi dibuka oleh Kepala Pokja Pengembangan Masyarakat SKK Migas.
Selama satu pekan, hingga 20 Juni, ruang-ruang diskusi menjadi saksi bisu transformasi mereka.
”Kami meyakini bahwa investasi terbaik untuk masa depan adalah investasi pada generasi muda. Melalui program ini, kami ingin membuka akses dan kesempatan yang lebih luas bagi pelajar di wilayah operasi untuk memperoleh pengalaman belajar yang berwawasan global,” kata Andry Sehang, General Manager JOB Tomori.
Menempa Diri: Dari Kelas Virtual hingga Capstone Project
Sebelum mencicipi atmosfer lokakarya tatap muka di Jakarta, keempatnya telah lebih dulu “dihajar” dengan pembelajaran daring super ketat selama lima minggu.

Aturannya mutlak: tingkat penyelesaian harus 100 persen tanpa celah.
Di program beasiswa penuh ini, kurikulum yang disajikan pun tidak main-main.
Mereka menyelami labirin kompetisi global, belajar menghargai perbedaan lewat lintas budaya (intercultural learning), membedah Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), hingga menantang diri dalam bidang STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics).
Puncaknya di Jakarta, mereka ditantang berkolaborasi membentuk kelompok interaktif.
Bersama rekan-rekan baru dari berbagai penjuru nusantara, mereka meramu ide, menyusun strategi, dan mempresentasikan gagasan inovatif bertema SDGs dalam sebuah capstone project.
Di sini, mental mereka ditempa untuk peka terhadap isu masa depan, termasuk bagaimana industri hulu migas dan sektor energi bersanding dengan kelestarian bumi.
Pulang Membawa Api Perubahan
Andry Sehang tidak bisa menyembunyikan rasa bangganya.
Keberhasilan pelajar dari Batui Selatan dan Moilong ini menjadi bukti sahih bahwa talenta muda dari pelosok Banggai memiliki kualitas yang mampu bersaing di level nasional.
”Kami berharap para peserta dapat memanfaatkan kesempatan ini sebaik-baiknya, memperluas wawasan, membangun jejaring, dan kembali ke daerah dengan membawa semangat baru untuk berkontribusi bagi masyarakat,” harap Andry.
Kelak, ia ingin melihat keempat remaja ini tumbuh menjadi agen perubahan yang konkret bagi daerahnya.
Bagi JOB Tomori, keterlibatan dalam GFLN 2026 bukan sekadar menggugurkan kewajiban Program Pelibatan dan Pengembangan Masyarakat (PPM).
Ini adalah langkah nyata meruntuhkan sekat pembatas, memastikan bahwa anak-anak daerah mendapatkan hak dan kualitas pengalaman belajar yang setara dengan mereka yang tumbuh di kota-kota besar.
Kini, koper-koper mereka mungkin telah kembali dirapikan untuk perjalanan pulang ke Banggai. Namun, isi di dalamnya telah berubah.
Bukan lagi sekadar pakaian, melainkan kepala yang penuh dengan ilmu, jejaring pertemanan dari sabang sampai merauke, dan dada yang bergemuruh penuh takzim siap membangun tanah kelahiran. *

