

Salah satu sumber dana partai adalah partisipasi atau bantuan dari para kader yang berada di birokrasi atau kadernya yang menjadi anggota DPR & DPRD.
Semakin besar tekanan partai, maka akan semakin besar tindakan menyimpang yang dilakukan kadernya.
Rata-rata kader partai yang melakukan kejahatan korupsi karena ingin dirinya menjadi kader terbaik yang disegani dan dicintai.
Sebut saja, politisi partai Golkar Idrus Marham, Politisi Partai Demokrat Andi Malarangeng, Jhoni G Plate dan Sahrul Yasin Limpo (SYL) adalah kader-kader partai yang ingin menjadi kader terbaik, yang kurang memiliki daya tahan atas godaan-godaan dunia yang begitu dahsat.
Tahta, Harta dan Wanita Ujian Utama
Salah satu ucapan janji seorang pejabat ketika dilantik adalah ” ….tidak menerima janji atau pemberian dari siapapun juga yang menurut sifat nya …… dan seterusnya “.
Kata-kata ini sangat prinsip jika disadari oleh setiap pejabat, namun semuanya ini hanya manis di bibir dan hanya sedikit sekali para birokrat yang menjalankan dan melaksanakan hal itu.
Ada ASN yang ketika menjadi Camat sangat lurus dan jujur. Ketika menjadi Kepala Dinas sangat jujur dan lurus sehingga di cintai dan disenangi publik dan atasannya.
Ketika dipercayakan jabatan yang lebih tinggi apakah menjadi Sekda atau Bupati, maka kejujuran dan integritas nya mengendor dan mulai menyimpang dari sumpah dan janjinya.
Siapa yang tak mengenal mantan Bupati Bantaeng Prof Dr Nurdin Abdullah yang sewaktu menjadi Bupati 2 (dua) periode sangat berprestasi, jujur dan lurus, tetapi ketika menjadi Gubernur Sulawesi Selatan, Nurdin Abdullah harus berurusan dengan KPK dan berakhir masuk bui.
Seseorang selalu diuji dengan jabatan yang lebih tinggi. Semakin tinggi sebuah jabatan maka akan semakin tinggi pula angin yang bertiup dan godaan yang menerpa.
Tahta juga berkorelasi positip dengan Harta. Banyak para pejabat yang sudah berada di jabatan puncak karena tergiur dengan sahwat harta benda, dan tidak pernah merasa puas dan bersyukur dengan harta yang sudah dimilikinya, maka yang bersangkutan melakukan korupsi.
Dan fakta serta fenomena menunjukkan bahwa pejabat-pejabat yang telah memiliki harta yang luar biasa dan hidup kaya raya justru yang paling banyak melakukan korupsi (Lihat sederetan nama bupati, walikota, gubernur hingga menteri yang terjerat korupsi).
Gubernur Papua Lukas Enembe adalah orang papua terkaya yang memiliki harta sangat besar, tetapi enembe tidak merasa cukup dan kurang bersyukur, membuatnya harus menjadi terpidana atau terdakwa kasus korupsi.
Godaan Wanita pun menjadi faktor dominan dalam perilaku menyimpang seorang pejabat.
Banyak sederetan koruptor di Indonesia yang bila di dalami kasusnya ada hubungannya dengan perana wanita simpanan (Bambang Widjayanto, 2011).
Selalu ada hubungan antara tahta, harta dan wanita. Tanpa Tahta, tidak akan ada harta, dan tanpa keduanya tidak akan ada wanita.
Wanita selalu saja tampil dalam setiap kejahatan apapun termasuk korupsi.
Seringkali tanpa keterlibatan wanita, maka seseorang itu lempeng-lempeng saja dalam menjalankan jabatan dan kepemimpinannya, tetapi bila sudah ada wanita-wanita cantik yang mengelilinginya maka tinggal menunggu waktu kejatuhannya.
Sangat memilukan dan memalukan, istri sah di rumah berdoa setiap waktu untuk keselamatan suaminya, tetapi suami nya lebih memilih dan menghabiskan waktunya dengan istri simpanan.
Betul kata Alquran, wanita itu tiang negara. Bila wanita di negara itu baik dan benar, maka akan jayalah negara itu. Sebaliknya bila wanita-wanita di negara itu tidak baik, maka akan runtuhlah negara itu. *
Discussion about this post