Iklan
Kolom Syarif

Diam Adalah Bahasa Terbaik, Bila Kata Bijak Menjadi tak Bermakna

×

Diam Adalah Bahasa Terbaik, Bila Kata Bijak Menjadi tak Bermakna

Sebarkan artikel ini

Oleh: Dr. Syarif Makmur M.Si

DIAM adalah bahasa terbaik, ketika kecewa dengan keadaan. Kadang lebih baik diam dari pada menjelaskan apa yang kita rasakan. Karena lebih menyakitkan ketika mereka bisa mendengar tapi tidak bisa mengerti.

Akan ada fase dimana orang sabar menjadi muak. Orang yang peduli menjadi masa bodoh. Orang yang setia menjadi angkat kaki. Ketika setia, sabar dan peduli tidak dihargai. Ketika kita tak dihargai disitulah kita belajar tentang kesabaran.

Tetaplah menjadi orang baik, sekalipun kamu tak diperlakukan dengan baik. Carilah tempat dimana dirimu dihargai bukan dibutuhkan. Sebab banyak yang datang kepadamu karena butih, tapi tidak tau cara menghargai. 

Baca:  Paradigma Baru Kepemimpinan, Cawe-Cawe Kok Dipermasalahkan?

Diam itu indah dengan mendengar ucapan mereka. Merasakan sikap mereka. Dan melihat tingkah mereka, meskipun kadang sangat menyakitkan. 

Tersenyumlah bukan karena hidupmu lebih sempurna dari yang lain. Tetapi kamu yakin rencana Allah terhadapmu selalu indah. 

Allah selalu melihat mu lebih kuat dari yang lain, sehingga diberinya beban yang berat. 

Jika kamu berada, bersyukurlah, jika tidak berdoalah. Jika tidak memiliki apa-apa berusahalah. Jika kurang, bersabarlah. Jika lebih berbahagialah. Jika cukup berikhlaslah. 

Jangan lah bebankan dirimu dengan kerisauan tentang dunia. Karena dunia adalah milik Allah. 

Janganlah bebankan dirimu dengan kerisauan rezeki. Karena rezeki itu datang dari Allah.

Janganlah bebankan dirimu dengan kerisauan masa depan. Karena masa depan itu di tangan Allah. 

Tak semua alur sesuai cerita kita. Taqdir Allah memiliki jalannya sendiri, hingga akhirnya ikhlas lah yang menjadi pilihan terbaik sekalipun terkadang penuh dengan air mata.

Tidak ada setitik kehidupan tanpa masalah. Dan tidak ada satupun perjuangan tanpa rasa lelah.

Baca:  Cintailah Kehidupan

Saat kepercayaan itu dibalas dengan kebohongan, jangan berharap kepercayaan itu akan kembali. Kadang, kita selalu tahu bila kita di bohongi. Tetapi kita berpura-pura se akan semua biasa-biasa saja. 

Peganglah prinsip hidup ini Lebih Baik Kita Disakiti Dengan Kejujuran, Dari Pada Dibahagiakan Dengan Kebohongan.

Sekali saja kebohongan diucapkan, ia akan menjadi awal lahirnya kebohongan-kebohongan baru, hingga tanpa di sadari, hati di jiwa tak bergetar lagi ketika kebohongan diucapkan kembali. 

Ingat, kebohongan itu menyelematkan kita sementara, tetapi menghancurkan selamanya.