Inflasi Banggai berada di Zona Moderat; Sebuah Tanda Ekonomi Sedang Tumbuh

oleh -994 Dilihat
oleh
Ancu Larra

Tidak terlalu panas sampai membakar daya beli, tidak terlalu dingin hingga membuat dunia usaha membeku.

Ia adalah denyut nadi ekonomi yang normal—kadang naik sedikit, kadang turun sedikit—namun tetap dalam jalur yang terkendali.

Inflasi moderat adalah kenaikan harga yang stabil dan relatif rendah, biasanya di kisaran 3%-6% per tahun, yang dianggap sebagai tanda perekonomian yang sehat.

Tingkat ini mendorong masyarakat untuk membelanjakan uang karena nilai uang cenderung menurun sedikit, sehingga merangsang aktivitas ekonomi, investasi, dan produksi.

Sisi Positif Inflasi Moderat antara lain;

1. Stimulasi Pertumbuhan Ekonomi: Inflasi yang moderat dapat mendorong pertumbuhan ekonomi. Ketika harga barang dan jasa naik, produsen cenderung meningkatkan produksi untuk memanfaatkan kenaikan harga tersebut, yang pada gilirannya dapat meningkatkan output dan lapangan kerja.

2. Pengurangan Beban Utang: Inflasi Moderat dapat mengurangi beban utang riil pemerintah dan pelaku ekonomi lainnya. Ketika inflasi meningkat, nilai uang yang akan dibayarkan di masa depan menjadi lebih rendah dalam istilah riil, sehingga meringankan beban utang.

Baca Juga:  Dunia dalam Genggaman: Mewujudkan Pendidikan yang Berdampak di Era Digital

3. Mendorong Konsumsi dan Investasi: Inflasi Moderat dapat mendorong konsumsi dan investasi dengan mengurangi insentif untuk menabung. Jika harga diperkirakan akan naik, konsumen cenderung mempercepat pembelian, dan investor lebih mungkin mengalokasikan dana untuk investasi produktif daripada menyimpannya dalam bentuk tunai.

Dalam Hukum Ekonomi Modern, inflasi bukanlah musuh yang harus dibasmi sampai ke akar. Ia justru harus dijinakkan, dikawal, dikendalikan agar tetap berada dalam batas moderat.

Karena di titik itulah stabilitas tercipta, di titik itulah kita menilai kinerja pemerintah, apakah mampu menjaga ekonomi agar tetap hidup, bergerak, dan stabil ataukah hancur lebur.

Namun, sebagian orang yang tidak memahami cara kerja ekonomi modern sering kali salah paham. Mereka mendengar kata inflasi, lalu takut.

Mereka melihat angka bergerak naik, lalu merasa daerah ini sedang menuju krisis. Padahal mereka belum benar-benar tahu apa itu inflasi, bagaimana ia bekerja, dan apa baik buruknya dalam sebuah sistem ekonomi.

Baca Juga:  Pemkab Banggai Gelar FKP Penyusunan Ranwal RKPD Tahun 2025

Inflasi tidak selalu buruk. Ia adalah tanda bahwa ada transaksi, ada pergerakan harga, ada pertumbuhan.

Tanpa inflasi, ekonomi justru bisa lumpuh—usaha berhenti berkembang, investasi tak bergerak, dan pasar menjadi beku.

Itulah mengapa pemerintah dituntut bekerja keras mengendalikan inflasi agar tetap berada pada level ringan dan moderat, demi menjaga keseimbangan, melindungi daya beli, dan memastikan Banggai terus melangkah menuju masa depan yang lebih mapan.

Di antara angka-angka itu, tersimpan pesan sederhana bahwa ekonomi bukan sekadar hitungan. Ia adalah cerita tentang kehidupan kita semua.

Penutup dan Saran dari Saya; Anchu, Orang Biasa-Biasa

Kadang yang paling menyakitkan bukanlah kritiknya, tapi ketidaktahuan yang dibungkus seolah-olah kebenaran.

Terlalu sering kita mendengar orang-orang yang tak pernah menyentuh buku ekonomi modern, tak pernah memahami cara kerja pasar, produksi, distribusi, dan moneter.

Namun begitu mudah melontarkan istilah “inflasi” sebagai tuduhan, sebagai senjata politik, sebagai cermin kemarahan yang tidak pernah disaring oleh pengetahuan.

Baca Juga:  Mendaur Pemikiran Mahfud MD: Tidak Satupun Kementerian dan Parpol di Negeri ini Bersih dari Korupsi

Padahal ekonomi bukan sekadar kata-kata yang dilempar untuk menyudutkan.

Ekonomi adalah jantung sebuah Negara dan Daerah—berdenyut karena kerja keras, kebijakan, dan proses panjang yang tidak selalu terlihat oleh mata.

Menyebut “inflasi” tanpa memahami artinya ibarat menuduh kapal tenggelam hanya karena melihat ombak dari jauh.

Saran saya sederhana : sebelum menuding, belajarlah. Sebelum berbicara soal ekonomi, pahamilah bahwa setiap angka adalah nasib orang banyak.

Setiap kebijakan adalah harapan yang sedang dirajut. Dan setiap istilah yang digunakan sembarangan hanya akan menunjukkan satu hal yaitu kebodohan, bila tidak disadari, bisa jauh lebih merusak dibanding kesalahan ekonomi itu sendiri.

Belajar dan Membacalah, agar kritik itu bernilai. Dan berbicaralah, bukan untuk mempermalukan daerah, tetapi untuk membangunnya. *

Penulis adalah aktivis Lingkar Gerakan Rakyat (Larra) Banggai

No More Posts Available.

No more pages to load.