LUWUK TIMES — Langit yang tiba-tiba gelap. Hujan deras yang turun hanya dalam hitungan jam. Lalu air meluap tanpa peringatan. Itulah gambaran yang kerap masyarakat Kabupaten Banggai rasakan saat perubahan cuaca yang tak menentu.
Menghadapi situasi tersebut, Pemerintah Kabupaten Banggai resmi menetapkan status siaga darurat bencana, mulai 14 April hingga 15 Mei 2026.
Keputusan ini mengemuka dalam rapat koordinasi. Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setda Banggai, Faisal Karim, memimpin rapat yang berlangsung pada Ruang Rapat Asisten III, Senin (13/04/2026).
Usai rapat, Kepala BPBD Banggai, Fery Sujarman kepada Luwuk Times menjelaskan bahwa penetapan status ini bukan tanpa alasan.
Dalam beberapa waktu terakhir, frekuensi bencana seperti banjir, abrasi pantai, tanah longsor hingga angin puting beliung terus meningkat.
“Ini karena kita sedang berada pada masa transisi musim. Hujan turun singkat, hanya satu sampai dua jam, tapi sangat deras dan berdampak besar,” jelasnya.
Perubahan cuaca ekstrem tersebut membuat risiko bencana semakin tinggi. Terutama wilayah rawan banjir dan perbukitan. Karena itu, pemerintah tidak ingin lengah.
Sebagai langkah konkret, akan dibentuk tim terpadu, dengan melibatkan berbagai OPD serta Basarnas. Harapannya, kolaborasi lintas sektor ini mampu mempercepat penanganan lapangan serta meminimalisir dampaknya.
Kata Fery, dalam rapat tersebut, seluruh instansi yang hadir menyatakan kesiapan penuh. Mulai dari Dinas PUPR, Dinas Sosial, Dinas Perkimtan, Dinas Kesehatan, hingga BMKG.
Termasuk Basarnas dan PMI Kabupaten Banggai, siap bergerak bersama menghadapi potensi bencana.
Kewaspadaan Sejak Dini
Kesiapsiagaan tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah. Masyarakat juga lanjut Fery, dapat meningkatkan kewaspadaan sejak dini.
Hal sederhana seperti membersihkan saluran air sekitar rumah, memangkas dahan pohon yang rawan tumbang.
Termasuk memastikan kondisi atap rumah tetap kokoh, menjadi langkah awal yang penting.
Saat hujan deras turun, warga imbau Fery, menghindari tempat-tempat berisiko seperti bawah pohon besar atau bangunan rapuh.
Bagi yang tinggal pada bantaran sungai atau wilayah rawan, kewaspadaan terhadap kenaikan debit air menjadi hal mutlak.
Tak kalah penting, masyarakat pada daerah perbukitan peka terhadap tanda-tanda longsor, seperti retakan tanah atau perubahan warna air.
Di tengah ancaman yang bisa datang sewaktu-waktu, kesiapan kecil bisa menjadi penyelamat besar.
Termasuk menyiapkan tas siaga bencana berisi dokumen penting, obat-obatan, makanan instan, hingga perlengkapan darurat.
Banggai kini berada dalam fase siaga. Alam memberi tanda, dan kewaspadaan menjadi kunci.
Sebab dalam situasi seperti ini, keselamatan bukan hanya tentang bagaimana bertahan, tetapi juga tentang seberapa siap kita menghadapi kemungkinan terburuk. *
Reporter Sofyan Labolo

