Luwuk Times, Bualemo —Pagi yang tenang di Desa Nipa Kalemoan, Kecamatan Bualemo, mendadak berubah menjadi mencekam pada Kamis (17/9/2026) sekitar pukul 03.00 WITA. Saat sebagian besar warga masih terlelap dalam tidur nyenyak, kobaran api menyala hebat di tengah kegelapan malam.
Percikan api yang diduga kuat dipicu korsleting listrik menyambar bangunan rumah milik Kepala Desa Nipa Kalemoan, I Gusti Ngurah Putu Janji (61). Dalam hitungan menit, si jago merah membakar bangunan beserta isinya.
I Gusti Ngurah Putu bersama sang istri, I Gusti Sri Astuti (54), hanya bisa bertaruh waktu untuk menyelamatkan diri.
Meski tak ada korban jiwa, cobaan berat melanda pasangan suami istri ini setelah kediaman mereka rata dengan tanah, menyisakan puing dan kenangan.
Musibah yang menimpa sang kades tak lantas membiarkan mereka berjuang sendirian.
Kebersamaan dan empati langsung mengalir dari berbagai pihak. Menjelang sore hari di tanggal yang sama, sekitar pukul 17.00 WITA, Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Banggai bergerak cepat mendatangi lokasi kejadian di Kecamatan Bualemo.
Dipimpin langsung oleh Kepala Dinsos Banggai, Hariadi Bola, bersama jajaran staf Perlindungan dan Jaminan Sosial (Linjamsos), tim membawa langsung paket bantuan darurat ke lokasi.
Momen penyerahan bantuan berlangsung haru, disaksikan oleh Camat Bualemo, pendamping Program Keluarga Harapan (PKH), serta warga setempat yang berbondong-bondong memberikan dukungan moral.
Bantuan yang disalurkan mencakup kebutuhan mendesak berupa sandang (pakaian dan perlengkapan harian) serta pangan (bahan makanan pokok) untuk memastikan kebutuhan dasar korban terpenuhi pascabencana.
“Kami hadir untuk memastikan bahwa saudara kita yang tertimpa musibah tidak merasa sendiri. Semoga bantuan yang kami serahkan ini dapat bermanfaat dan setidaknya meringankan beban berat yang sedang dipikul keluarga terdampak,” ungkap Hariadi Bola dalam keterangan tertulisnya.
Kehadiran jajaran Dinsos Banggai dan pemerintah setempat di tengah puing-puing bangunan ini menjadi simbol kepedulian nyata pemerintah daerah. Bagi I Gusti Ngurah Putu Janji dan istri, uluran tangan dan kehadiran warga sekitar di lokasi menjadi penguat di masa-masa sulit pascamusibah. *






















