
Oleh: Andika Kasimun
Niat tulus untuk membantu kondisi keuangan orang tua terus dilakukan oleh seorang bocah berusia delapan tahun.
Bocah kecil itu mencari rezeki dengan mengenakan kostum badut boneka Labubu, menyusuri tempat-tempat ramai di Kota Luwuk.
Dengan menghibur anak-anak kecil, ia berharap mendapat sedikit rezeki dari mereka yang peduli.
Tulisan ini lahir berkat motivasi dari senior wartawan kondang di Kabupaten Banggai, Sutopo Enteding, dari media Okenesia.
Ia selalu mengingatkan bahwa “Insting kemanusiaan tidak boleh redup dari pewarta.”
Tepat pukul 21:00 WITA, Kamis (20/3/25) di sebuah pusat perbelanjaan yang penuh dengan orang, hadir berbagai badut yang silih berganti menghampiri pelanggan.
Hal ini sudah menjadi pemandangan umum di tempat-tempat keramaian di kota Luwuk Kabupaten Banggai, termasuk di pasar malam.
Namun, perhatian saya tertuju pada satu badut kecil berkarakter Labubu yang menghampiri kami usai berbuka puasa. Insting jurnalis pun muncul, dan saya mengajaknya berbincang.
Selama 30 menit percakapan, saya belajar banyak hal.
Bocah itu bernama Fikri, seorang siswa kelas 6 SD di Kota Luwuk. Meski masih kecil, ia sudah bertekad membantu ibunya mencari nafkah.
Fikri baru sehari menjalani profesi sebagai badut dan sudah mendapat izin dari orang tuanya.
“Saya sudah bilang ke orang tua saya, dan mereka mengizinkan,” ujarnya.
Dalam satu malam, ia bisa mendapatkan Rp100.000, tetapi separuhnya harus diberikan kepada pemilik kostum.
“Saya paling banyak dapat 100 ribu, tapi itu dibagi dua dengan tuan kostum,” jelasnya.
Dengan badan bercucuran keringat akibat panasnya kostum, Fikri mengungkapkan bahwa ia melakukan ini dengan tulus demi membantu ibunya.
“Saya menjalani ini untuk membantu orang tua saya,” tuturnya.
Fikri tinggal bersama ibunya di Hanga-Hanga Lembah setelah kedua orang tuanya berpisah. Ibunya bekerja sebagai penjual kue, dan ia selalu berusaha membantu.
Sebelum bulan Ramadan, Fikri biasanya membantu ibunya membakar kue Lalampa di pagi hari untuk dijual sebelum berangkat sekolah.
Namun, di bulan puasa ini, ia bekerja sebagai badut di malam hari setelah sholat tarawih.
Sebagai anak bungsu dari empat bersaudara, ia kini tinggal hanya bersama ibunya, sementara kakak-kakaknya telah menikah.
“Saya anak terakhir dari empat bersaudara. Kakak-kakak saya sudah menikah. Kalau ke pasar malam, saya naik ojek,” katanya.
Fikri bukan satu-satunya anak yang menjalani profesi ini. Ia mengungkapkan bahwa ada sekitar enam anak lainnya yang juga mengenakan kostum badut untuk mencari nafkah.
Sebelum bekerja, mereka mengambil kostum dari seorang pemilik di Lalong, yang juga menjual helm.
“Tuan kostum itu di Lalong, yang jual helm. Jadi kami ambil di situ, lalu berpencar,” jelasnya.
Di akhir perbincangan, Fikri menegaskan bahwa mereka bekerja atas kemauan sendiri, tanpa ada paksaan.
“Kami melakukan ini karena kemauan sendiri, tanpa melupakan sekolah,” tegasnya.
Kisah Fikri adalah cerminan realitas yang menggugah hati. Di usianya yang masih belia, ia telah memahami arti perjuangan dan tanggung jawab.
Anak sekecil itu, yang seharusnya bermain dan belajar, kini harus menghadapi kerasnya kehidupan demi membantu keluarganya.
Semoga kisah Fikri membuka mata kita akan pentingnya kepedulian, agar anak-anak seperti dia tetap bisa mengejar impian tanpa harus terbebani dengan beratnya perjuangan hidup.*
Penulis Adalah Wartwan Luwuk Times
Discussion about this post