Oleh: Munawir Kunjae
SEBAGAI seorang kepala desa, setiap kali tiba di Palu, saya rutin mengunjungi beberapa kantor penting. Seperti kantor gubernur, kantor DPRD provinsi, bahkan kantor dinas teknis.
Kedatangan saya ini bertujuan untuk menyampaikan berbagai keluhan dan aspirasi dari masyarakat.
Mulai dari masalah infrastruktur, seperti jalan rusak dan drainase yang tidak memadai. Hingga kebutuhan lainnya, bibit, bronjong dan alat mesin pertanian (alsintan).
Saya merasa kunjungan ini sangat penting. Dan tidak ingin melewatkan kesempatan tersebut.
Sebenarnya, seorang kepala desa tidak perlu mencari-cari program hingga ke tingkat provinsi, jika alur Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) berjalan sebagaimana mestinya.
Namun, karena alur tersebut seringkali tidak berjalan lancar, para kepala desa kerap harus “memulung” anggaran dari APBD, baik tingkat kabupaten maupun provinsi.
Tentu dengan mengajukan proposal untuk mendapatkan bantuan, yang sebenarnya itu hak desa.
Manfaat kunjungan ke luar daerah ternyata penting untuk membangun relasi, mencari jaringan, dan memperluas akses demi kepentingan desa masing-masing.
Era modern ini, sebuah daerah termasuk desa, akan menjadi terpinggirkan atau terbelakang jika tidak memiliki jaringan dan relasi yang luas.
Dengan pemahaman ini, saya mencoba menemui beberapa kolega. Salah satunya Bapak Ismail Yunus. Beliau adalah orang yang sangat baik dan loyal kepada teman.
Dulu, saat masih menjabat sebagai anggota DPRD provinsi dari Partai Hanura, saya sering menitipkan proposal kelompok tani dari masyarakat Desa Sampaka kepadanya.
Beberapa proposal tersebut bahkan berhasil terealisasi melalui program pokok-pokok pikiran (pokir) miliknya.
Sayangnya, pada Pemilihan Legislatif (Pileg) tahun 2024 lalu, suaranya terpaut tipis dan beliau tidak lolos ke periode berikutnya.
Sebagai teman yang baik, saya bukan tipe orang yang “kacang lupa kulitnya.”
Komunikasi kami tetap terjaga, dan kunjungan ini adalah bentuk silaturahmi kepada senior.
Ketika saya berkunjung ke rumahnya, Rabu (08/10/25), beliau sudah berangkat ke kantor Partai Hanura provinsi untuk mengikuti rapat daring (zoom meeting) bersama para petinggi partai dari Dewan Pimpinan Pusat (DPP).
Setelah berkomunikasi via telpon, saya diminta menyusulnya ke kantor, dan saya yang ketika itu di temani Nun (kadus 2) dan Ical akhirnya diterima di ruang kerjanya.
Beliau kini menjabat sebagai sekretaris partai di tingkat provinsi.
Pertemuan kami tidak berlangsung lama karena kesibukannya. Namun, pertemuan itu sangat berarti.
Dengan penuh keakraban, beliau membuka percakapan dengan pertanyaan-pertanyaan ringan seputar perjalanan saya.
Dalam pertemuan itu, beliau berpesan bahwa di tengah pertumbuhan ekonomi yang kurang stabil, peran kepala desa sangat strategis.
Kepala desa harus mampu mendorong masyarakat, khususnya generasi muda, agar memiliki pendapatan tambahan di bidang ekonomi.
Pesan ini mengingatkan saya pada sebuah hadis, “Khoirunnas anfa’uhum linnas” (sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain), yang mungkin menjadi inti dari pesannya.
Pesan itu menjadi semakin penting mengingat pemangkasan dana transfer dari pemerintah pusat ke daerah tahun 2026 yang akan berdampak luas. Terutama bagi daerah yang masih sangat bergantung pada dana tersebut.
Sambil mencicipi kue yang dihidangkan, saya menghela napas panjang dan bergumam dalam hati, “Belum selesai masalah infrastruktur desa, sudah muncul masalah lain.”
Terakhir pesannya, generasi muda harus kreatif dan inovatif. Dalam situasi ekonomi seperti sekarang, pendapatan yang tinggi adalah prioritas kedua.
Karena pendapatan yang rendah atau cukup namun rutin jauh lebih penting untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Wallahu a’lam bishawab. *
Penulis adalah Kepala Desa Sampaka Kecamatan Bualemo Kabupaten Banggai






