Ojek Online: Kelas Pekerja Baru dengan Potensi Revolusioner

oleh -2727 Dilihat
oleh
Ojek online

Oleh: Supriadi Lawani


HARI ini kita menyaksikan lahirnya satu kelas pekerja baru di Indonesia: pekerja ojek online. Mereka bukan sekadar pengendara motor berburu order, melainkan wajah paling telanjang dari eksploitasi kapitalisme digital.

Mereka bekerja tanpa jam kerja pasti, dipaksa mengejar pendapatan dengan potongan besar dari aplikasi, tubuh dan pikiran mereka lelah, tetapi pemilik modal platform menumpuk keuntungan tanpa batas.

Inilah kontradiksi yang disorot Karl Marx: kerja keras di satu sisi, perampasan hasil kerja di sisi lain.

Bedanya, jika dulu proletariat identik dengan buruh pabrik, hari ini proletariat hadir di jalan-jalan kota, dengan jaket hijau atau biru, helm di kepala, dan ponsel di tangan.

Baca Juga:  Pengakuan Jujur Politikus Golkar Zulfikar Arse, Wakil Ketua Komisi II DPR RI: Sangat Sulit Mendapat Uang Halal Di Negeri ini

Keistimewaan kelas pekerja baru ini justru terletak pada alat kerja mereka: smartphone. Dengan ponsel, mereka tidak hanya bekerja, tetapi juga membaca berita, menonton peristiwa, dan menyaksikan langsung ketidakadilan.

Mereka melihat pejabat hidup mewah, korupsi merajalela, sementara mereka harus bergelut dengan bensin, cicilan motor, dan dapur yang nyaris tak berasap.

Mereka tidak hidup dalam ilusi. Mereka hidup dalam kenyataan pahit kapitalisme yang kasar.

Baca juga: Rakyat Sudah Marah, Tapi Siapa yang Memimpin?

Dan yang lebih berbahaya bagi penguasa, solidaritas ojek online sudah terbentuk secara nasional.

Baca Juga:  Parenting Zaman Now: Strategi Mengasuh Gen Alpha

Mereka punya jaringan komunitas, dari perkotaan hingga daerah. Mereka bisa bergerak cepat, mereka bisa memobilisasi ribuan bahkan jutaan pengemudi dengan seruan sederhana di grup WhatsApp.

Inilah infrastruktur mobilisasi yang tidak dimiliki kelas pekerja lain hari ini.

Maka, jangan heran jika benturan pertama dari krisis hidup layak di negeri ini datang dari mereka.

Mereka yang paling tahu arti perut lapar. Mereka yang paling paham bagaimana hasil kerja dirampas. Dan mereka yang setiap hari berhadapan dengan kenyataan rakyat di jalanan.

Baca Juga:  Tunjangan Fantastis DPR: Potret Demokrasi Kapitalisme dan Solusi Islam

Namun, sejarah juga memberi pelajaran: tanpa kepemimpinan, amarah kelas pekerja hanya menjadi riak, bukan gelombang.

Tanpa organisasi, energi revolusioner hanya jadi letupan sesaat, mudah dipadamkan.

Ojek online hari ini menyimpan mesin perubahan, tetapi mesin itu membutuhkan pengemudi politik.

Jika lahir kepemimpinan dari rahim kelas pekerja baru ini, Indonesia akan menyaksikan sesuatu yang belum pernah terjadi: kebangkitan proletariat digital yang siap mengguncang fondasi kekuasaan lama.

Ojek online bukan sekadar transportasi. Mereka adalah bom waktu sosial. Pertanyaannya: siapa yang berani menyalakan sumbu itu? *

Penulis adalah petani pisang

No More Posts Available.

No more pages to load.