“Puasa Paruh Waktu” Jadi Sorotan di Malam Kelima Ramadan, DR. Farid Haluti: Iman Harus Dijaga, Bukan Sekadar Diawali

oleh -278 Dilihat
oleh
Jamaah masjid Agung An-Nuur Luwuk malam ke lima Ramadhan, Minggu 22 Februari 2026. (Foto Sofyan Labolo Luwuk Times)

LUWUK TIMES – Malam kelima Ramadan, Minggu (22/2), suasana di Masjid Agung An-Nuur Luwuk dipenuhi jamaah yang antusias mengikuti tausiah bertema “Meningkatkan Iman dan Takwa kepada Allah” yang dibawakan oleh DR. Farid Haluti.

Dalam ceramahnya, Farid mengingatkan bahwa tujuan utama penciptaan manusia dan jin adalah untuk beribadah kepada Allah SWT.

“Iman adalah landasan kita untuk berpuasa. Yang diperintahkan berpuasa itu orang-orang yang beriman. Dari iman itulah lahir ketakwaan,” ujarnya.

 

Fenomena “Puasa Paruh Waktu”

Namun, ia menyoroti fenomena yang memprihatinkan di tengah umat Islam, yakni apa yang ia sebut sebagai “Puasa Paruh Waktu.”

Berdasarkan survei yang ia paparkan, dari sekitar 200 juta umat Islam dewasa, hanya 80 persen yang menjalankan puasa di awal Ramadan.

Parallax Image

Ironisnya, di akhir Ramadan jumlah itu menyusut menjadi sekitar 60 persen.

Baca Juga:  PHBI Banggai Safari Ramadhan di Empat Titik

“Ada yang awalnya semangat, tapi kemudian ‘rubuh’ di tengah jalan,” katanya.

Tak hanya itu, dari 80 persen yang berpuasa, hanya sekitar 80 persen yang melaksanakan salat tarawih di masjid. Artinya, ada yang berpuasa tetapi tidak memakmurkan masjid.

“Banyak muslimin puasanya paruh waktu. Bukan hanya PPPK yang paruh waktu,” sindirnya yang disambut senyum jamaah. “Ini terjadi karena tidak mampu menjaga iman.”

Ia juga mengisahkan pengalamannya tahun lalu saat melakukan survei sederhana di sejumlah rumah makan saat waktu berbuka.

Baca Juga:  Kakan Imigrasi Banggai Bukber dengan Jurnalis di Luwuk

Tirai warung hanya ditutup setengah, namun pelanggan justru meningkat dua hingga tiga kali lipat dibanding hari biasa.

Jika biasanya dua hingga tiga liter nasi sulit habis, di bulan Ramadan bisa mencapai lima liter dalam sehari.

“Ini artinya ada yang puasanya paruh waktu,” tegasnya. Ia menambahkan, mayoritas pelanggan yang ditemuinya adalah kaum bapak-bapak.

 

Menjaga Iman, Kunci Konsistensi

Farid menekankan, meningkatkan iman itu penting, tetapi yang lebih mendasar adalah menjaga iman agar tetap terpatri dan konsisten dalam beribadah hingga akhir Ramadan.

Ia membagikan tiga unsur utama dalam menjaga iman:

Baca Juga:  NasDem Banggai Berbagi Takjil di Tugu Adipura Luwuk

Panca indera – Menjaga apa yang dilihat, didengar, dan diucapkan agar tidak merusak nilai puasa.

Akal – Menggunakan pikiran untuk merenungi kebesaran Allah dan hikmah ibadah.

Wahyu Allah SWT – Menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup dan sumber penguatan spiritual.

“Puasa bukan hanya menahan lapar dan dahaga, tapi juga menjaga iman agar tetap hidup sampai akhir Ramadan. Jangan sampai semangat di awal, lalu redup di tengah jalan,” pesannya.

Tausiah malam itu menjadi pengingat bagi jamaah bahwa Ramadan adalah momentum pembuktian kualitas iman, bukan sekadar rutinitas tahunan. Puasa harus dijalani secara utuh, bukan setengah-setengah. *

Reporter Sofyan Labolo