Oleh: Supriadi Lawani
KEBAIKAN yang menyebar dari mulut ke mulut dapat menjelma menjadi gerakan. Dan itulah Rasulullah.
Islam tidak lahir dari panggung kekuasaan, tidak tumbuh dari mikrofon dan kamera, melainkan dari ketulusan—dari perbuatan baik yang konsisten, sunyi, dan nyata.
Kebaikan yang bekerja dalam kehidupan sehari-hari, hingga kabarnya sampai ke telinga dan batin kaum miskin, kaum mustadh‘afin.
Rasulullah tidak membangun pengaruh dengan pura-pura baik. Ia tidak menutup kejahatan dengan simbol agama, tidak merampok lalu bersembunyi di balik doa, tidak korup lalu menebusnya dengan safari moral.
Ia juga tidak memamerkan shalat di depan publik, atau mendatangi entitas marjinal sekadar untuk memperoleh luputan etis. Kebaikannya bukan kosmetik kekuasaan.
Ia tidak butuh pencitraan karena ketulusannya bekerja sendiri. Kebaikan Rasulullah hidup, bergerak, dan dibicarakan.
Ia dirasakan oleh anak yatim yang dilindungi, oleh orang miskin yang diurus, oleh mereka yang tertindas dan akhirnya tahu bahwa mereka tidak sendirian.
Dari situlah Islam bergerak—bukan dari slogan, bukan dari baliho, melainkan dari pembelaan nyata terhadap kehidupan yang rapuh.
Al-Qur’an bahkan mengajukan ukuran iman yang keras dan jujur, jauh dari romantisme simbolik:
أَرَأَيْتَ الَّذِي يُكَذِّبُ بِالدِّينِ فَذَٰلِكَ الَّذِي يَدُعُّ الْيَتِيمَ وَلَا يَحُضُّ عَلَىٰ طَعَامِ الْمِسْكِينِ
Tahukah kamu orang yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim dan tidak mendorong memberi makan orang miskin.
(QS. Al-Mā‘ūn: 1–3)
Ayat ini membalik logika keagamaan yang sering kita jumpai hari ini.
Pendusta agama bukan semata mereka yang tak beribadah, melainkan mereka yang abai pada penderitaan sosial. Mereka yang rajin ritual tetapi dingin terhadap kelaparan, ketimpangan, dan ketidakadilan.
Karena itu, agama sejatinya bukan soal citra, melainkan keberpihakan.
Bukan soal ritual yang dipamerkan, melainkan keadilan yang diperjuangkan.
Jika Islam ingin kembali menjadi gerakan yang hidup, ia harus kembali ke asalnya: kebaikan yang tulus, yang bekerja diam-diam, dan yang dibicarakan oleh mereka yang paling membutuhkan—bukan oleh mereka yang paling berkuasa. *




