Oleh: Supriadi Lawani
TANGGAL 21 November kemarin sebenarnya adalah Hari Burung Maleo. Iya, saya tahu, tulisan ini agak telat.
Tapi kalau untuk merayakan makhluk setia yang sedang terancam punah, masa kita harus terlalu patuh pada tenggat?
Lagian, yang benar-benar butuh ketepatan waktu itu bukan tulisan ini, tapi upaya penyelamatan maleo itu sendiri.
Yang menarik dari burung maleo bukan hanya telurnya yang ukurannya seperti “powerbank 20.000 mAh”—besar sekali untuk ukuran tubuhnya.
Dari semua unggas Nusantara, mungkin ini satu-satunya burung yang keberanian bertelurnya jauh mengalahkan ukuran badannya sendiri. Tapi ada satu hal yang jauh lebih menggetarkan hati: maleo itu setia.
Setia betulan. Bukan setia ala-ala caption Instagram. Dalam hidupnya, maleo hanya punya satu pasangan, dan itu bertahan sampai ajal.
Tidak gonta-ganti. Tidak selingkuh. Tidak tiba-tiba hilang sinyal. Tidak ghosting. Kalau sudah berpasangan, ya berpasangan saja dia sampai habis umur.
Di tengah dunia modern yang kadang lebih cepat berubah dibanding harga tiket pesawat, model kesetiaan begini rasanya seperti spesies langka. Bahkan lebih langka dari maleo itu sendiri.
Kadang saya membayangkan, kalau sifat burung maleo ini dipraktikkan manusia, mungkin banyak drama hidup yang bisa dihemat.
Timeline media sosial lebih tentram. Grup WA keluarga lebih hangat. Konsultan percintaan bisa sepi job. Bahkan mungkin podcast relationship tak perlu sebanyak sekarang.
Kesetiaan maleo mengingatkan kita pada sesuatu yang sederhana: bahwa dalam hidup yang sibuk, bising, dan serba instan ini, ada makhluk kecil di belantara Sulawesi yang memberi contoh tentang konsistensi dan komitmen secara diam-diam—tanpa quotes motivasi, tanpa workshop “self healing”, tanpa mic dan panggung TED Talk.
Dia hanya hidup setia. Titik
Tentu saja hewan setia ini justru sedang terancam punah. Habitatnya menyempit, telurnya diambil manusia, dan ruang hidupnya semakin tipis.
Ironis, kan? Yang setia justru semakin hilang. Yang bertahan malah yang paling lihai mengelabui.
Mungkin itu pelajaran kecil di Hari Burung Maleo: bahwa kesetiaan bukan cuma soal pasangan hidup, tapi juga tentang bagaimana kita menjaga apa yang penting—hubungan, alam, atau bahkan diri sendiri.
Kalau maleo saja bisa setia seumur hidupnya, masa kita kalah?
Saya yakin teman saya Andri Badulah akan senyum – senyum membaca tulisan ini. *





