Bang Syukur Mandar: Koruptor Dimanjakan, Indonesia Sulit Keluar dari Wabah Korupsi

oleh
oleh
Bang Syukur Mandar

LUWUK TIMES – Lewat podcast Facebook miliknya, Bang Syukur Mandar menilai Indonesia belum serius berbenah dalam urusan pemberantasan korupsi.

Ia menyoroti pernyataan Ketua KPK yang mengeluhkan besarnya biaya penangkapan hingga penahanan koruptor.

“Menangkap koruptor itu butuh biaya besar. Dari operasi penangkapan, pakaian hingga makan sehari-hari semuanya ditanggung negara,” ujar Bang Syukur Mandar, Jumat (15/05/2026).

Menurutnya, kondisi itu berbeda dengan negara seperti China dan Singapura yang tidak ingin memanjakan koruptor.

“China menganggap korupsi merusak keuangan negara. Merusak nama baik negara dan keluarga. Karena itu mereka bertindak tegas,” katanya.

Ia menyebut hukuman berat diperlukan agar korupsi tidak terus berkembang.

“Kalau koruptor dihukum tegas, negara tidak terus dibebani biaya dan persoalan yang sama,” ucapnya.

Bang Syukur juga mencontohkan Korea Selatan yang mempermalukan koruptor di depan publik sebagai efek jera.

“Bukan hanya dipenjara seumur hidup. Tapi dipermalukan agar ada rasa malu bagi pelaku dan keluarganya,” katanya.

Ia menilai di Indonesia para koruptor justru masih leluasa dan sering mendapat hukuman ringan.

“Koruptor kita terlalu mudah mengatur keadaan. Masuk keluar penjara juga seperti tidak ada beban,” sindirnya.

Karena itu, Bang Syukur menegaskan persoalan utama bukan hanya biaya penanganan korupsi. Tetapi lemahnya keseriusan negara dalam melakukan pembenahan.

“Ketika KPK sendiri mengeluhkan soal ini, sebenarnya negara memang tidak ingin berbenah dalam memberantas korupsi,” tegasnya.

Menurut dia, jika pola penanganan korupsi tidak berubah, maka Indonesia akan terus menjadi negara dengan wabah korupsi yang tumbuh subur. *

Sofyan Labolo