Saya membayangkan, seandainya Rasulullah masih hidup, mungkin saya akan bertanya kepadanya tentang orang miskin ini.
Saya tidak tahu apa jawabannya.
Tetapi saya teringat bahwa pada masa Rasulullah, masjid bukan sekadar bangunan tempat shalat.
Masjid juga menjadi ruang kehidupan masyarakat. Orang-orang yang tidak memiliki tempat tinggal, termasuk kaum Ahlus Suffah, pernah hidup di sekitar Masjid Nabawi.
Dan saya teringat Umar bin Khattab.
Saya tidak tahu persis apa yang akan dilakukan Umar kepada orang miskin yang datang kepadanya dengan pertanyaan seperti itu.
Tetapi saya membayangkan seorang pemimpin seperti Umar tidak akan berhenti pada kalimat, “Masjid bukan tempat tinggal.”
Ia mungkin akan bertanya: “Kalau bukan di masjid, lalu orang ini harus tinggal di mana?”
Barangkali di situlah letak persoalannya. Kita terlalu mudah memberikan jawaban administratif kepada penderitaan manusia.
“Bukan tempatnya.”
“Bukan kewenangan kami.”
“Ada aturan.”
“Tidak boleh.”
Semua mungkin benar secara prosedural. Tetapi orang miskin itu tidak sedang bertanya tentang prosedur.
Ia sedang mencari tempat untuk tidur.
Dan sekarang pondok kecil yang dia pinjam kepada orang lain itu sudah kosong.
Saya tidak tahu ke mana ia pergi.
Mungkin ia menemukan tempat lain.
Mungkin menumpang di rumah seseorang. Mungkin tidur di emperan.
Atau mungkin malam ini ia kembali bertanya kepada Tuhan, dengan cara yang tidak bisa kita dengar:
“Ya Allah, kalau rumah-Mu pun bukan tempat untukku, aku harus pulang ke mana?”
Saya tidak tahu jawaban atas pertanyaan itu.
Tetapi sejak hari itu, setiap kali melihat orang bersujud di masjid, saya teringat seorang miskin yang tidak punya tempat untuk tidur.
Dan saya berpikir: Mungkin yang paling perlu kita takutkan bukan ketika orang miskin masuk ke masjid, tetapi ketika hati kita sudah tidak terusik lagi melihat orang miskin tidur di luar masjid. *
Penulis adalah petani pisang











