Close

Muhammad dan Etika Ekologi Islam: Ketika Alam yang Rusak Menuntut Pertanggungjawaban Kita

27 dilihat
Supriadi Lawani
A-AA+A++

Oleh: Supriadi Lawani

KITA terlalu lama membayangkan hubungan manusia dengan alam sebagai hubungan antara subjek dan objek. Manusia adalah subjek; alam menjadi objek. Manusia berpikir, memilih, menentukan, menguasai. Alam menyediakan tanah, air, hutan, mineral, energi—segala sesuatu yang dapat diubah menjadi sumber kemakmuran.

Dari cara pandang semacam itu lahirlah antroposentrisme: manusia ditempatkan sebagai pusat nilai. Hutan penting karena kayunya, sungai penting karena airnya, tanah penting karena dapat ditanami, laut penting karena ikannya.

Masalahnya, ketika alam terus-menerus diperlakukan sebagai alat, manusia akhirnya berhadapan dengan konsekuensi dari cara pandangnya sendiri.

Di Indonesia, konsekuensi itu bukan lagi peringatan di jurnal akademik, ia hadir setiap tahun di depan mata: banjir yang merendam permukiman, kebakaran lahan dan hutan yang menyelimuti kota dengan asap, cuaca ekstrem yang datang tanpa ampun, tanah longsor yang menelan korban, sungai-sungai yang tercemar limbah tambang, laut yang kehilangan keanekaragaman hayati, dan tanah-tanah pertanian yang kehilangan kesuburan.

Di balik semua bencana itu, ada pola yang sama: tambang yang membuka hutan tanpa reklamasi, perkebunan raksasa yang mengubah daerah resapan menjadi monokultur, pembukaan lahan dengan cara membakar, dan industri yang membuang limbah ke sungai dan laut.

Yang menanggung akibatnya bukan pihak yang meraup keuntungan, melainkan petani yang kehilangan air, nelayan yang kehilangan tangkapan, warga yang sesak oleh asap, dan anak-anak yang kehilangan masa depan yang sehat.

Krisis ekologis ini pada dasarnya adalah krisis hubungan. Kita tidak hanya kehilangan hutan; kita kehilangan cara memandang hutan. Kita tidak hanya mencemari sungai; kita kehilangan kesadaran bahwa sungai adalah bagian dari jaringan kehidupan. Kita tidak hanya menghabiskan sumber daya; kita memperlakukan alam seolah-olah keberadaannya hanya mempunyai arti sejauh berguna bagi manusia.

Dari Antroposentrisme ke Ekosentrisme

Filsafat lingkungan menawarkan satu perubahan penting: ekosentrisme. Ia tidak sekadar mengatakan bahwa hewan dan tumbuhan mempunyai nilai. Lebih jauh, ia melihat manusia sebagai bagian dari komunitas ekologis.

Yang perlu dijaga bukan hanya keberadaan individu makhluk hidup, tetapi hubungan, keseimbangan, dan integritas keseluruhan komunitas biotik.

Aldo Leopold, salah satu pemikir penting etika lingkungan, menyebutnya sebagai land ethic. Bagi Leopold, manusia bukan penakluk komunitas alam, melainkan anggota di dalamnya.

Ukuran etis suatu tindakan tidak cukup ditentukan oleh keuntungan manusia, tetapi juga oleh apakah tindakan itu mempertahankan integritas, stabilitas, dan keindahan komunitas biotik.

Gagasan ini menarik ketika dibawa ke dalam Islam. Bukan karena Islam identik dengan ekosentrisme modern, jelas tidak. Ekosentrisme lahir dari sejarah intelektual modern, terutama perkembangan ekologi dan filsafat lingkungan. Islam mempunyai bahasa, sejarah, dan kerangka teologisnya sendiri.

Tetapi justru di situlah menariknya: Islam mempunyai sumber-sumber pemikiran yang memungkinkan kita membangun etika ekologis dari dalam tradisi sendiri.

Rahmat Bagi Seluruh Alam

Salah satu ayat yang paling sering kita dengar berbunyi: Wa mā arsalnāka illā raḥmatan lil-‘ālamīn—”Aku tidak mengutus engkau melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam” (QS. Al-Anbiyā’: 107).

Pasang Iklan Anda Disini_1