LUWUK TIMES – Suasana haru dan penuh kehangatan menyelimuti halaman Kantor Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kabupaten Banggai, Kamis, 29 Januari 2026.
Hari itu menjadi penanda berakhirnya perjalanan pengabdian Syaifuddin Muid, Kepala Badan Kesbangpol Banggai, yang resmi memasuki masa purnabakti sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN).
Acara pelepasan dan pemberian penghargaan tersebut dikemas secara sederhana namun sarat makna.
Sejumlah rangkaian video ditayangkan, mulai dari Video Dedikasi Syaifuddin Muid, hingga kilas balik perjalanan para Kepala Badan Kesbangpol sejak lembaga ini masih bernama Sospol pada tahun 1964 hingga 2026.
Tercatat, sebanyak 18 pejabat pernah memimpin lembaga strategis tersebut, dengan Syaifuddin Muid menjabat pada periode 2022–2026.
Secara administratif, ia akan bebas tugas dari ASN per 31 Januari 2026.
Acara tersebut dihadiri langsung oleh Sekretaris Daerah Kabupaten Banggai Moh. Ramli Tongko mewakili Bupati Banggai.
Hadir juga Kapolres Banggai, Dandim 1308/LB, Danlanal, para ketua forum, Ketua PWRI Banggai, perwakilan lembaga adat, KPU dan Bawaslu, Koramil, pimpinan OPD, serta unsur perguruan tinggi seperti Unismuh dan AMIK.
Dalam sambutannya, Syaifuddin Muid yang akrab disapa Pudin Muid menyampaikan kilas balik perjalanan panjang kariernya sejak tahun 1992, diawali sebagai pegawai pertanahan di Kanwil BPN Sulawesi Tengah.
Ia mengisahkan berbagai penugasan penting, mulai dari Poso hingga Banggai, termasuk pembahasan strategis seperti lahan Tomata, DSLNG, PAU, jalan lingkar, hingga tanah Halimun.
“Dari pertanahan, saya pernah menjadi Kepala Pertanahan Banggai Kepulauan, lalu beralih sebagai pegawai pemda, Kabid Perkebunan, Camat Nuhon, Kabag DPRD, Kadispora, Kadis Sosial, hingga akhirnya dipercaya memimpin Kesbangpol,” ungkapnya.
Ia juga menyinggung sejumlah tantangan selama bertugas, salah satunya penertiban Pasar Simpong yang berhasil dilakukan tanpa konflik.
“Saya dipercaya sebagai ketua tim. Kuncinya humanisme dan kekompakan semua OPD,” ujarnya.
Dalam konteks politik daerah, Pudin menegaskan peran strategis Kesbangpol dalam menjaga keseimbangan, terutama saat Pilkada.
Menurutnya, kepemimpinan di Kesbangpol membutuhkan ketokohan, bukan sekadar jabatan.
Kepada seluruh pegawai, ia berpesan agar terus menjaga etika, saling menghargai antara pimpinan dan bawahan, serta tidak ragu memberikan kritik yang membangun.
“Jenjang karier pegawai harus lebih baik dari saya. Silakan kritik pimpinan, asal untuk kebaikan,” pesannya tulus.
Ia juga menyampaikan permohonan maaf apabila selama perjalanan kariernya belum maksimal.

“Saya manusia biasa,” katanya singkat.
Pudin turut mengenang masa tugasnya di Dispora, di mana ia membangun SSC (Sudarto Sport Center), serta menekankan pentingnya kekompakan dan soliditas di lingkungan Kesbangpol.
“Semua kekuatan politik ada di Kesbangpol. Maka kebersamaan itu wajib,” tegasnya.
Di akhir sambutan, ia menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak, termasuk Ketua KPU, Bawaslu, dan para ketua forum.
Ia menegaskan bahwa acara purnabakti tersebut murni inisiatif rekan-rekan sejawat.
“Satu sen pun saya tidak keluarkan,” ucapnya.
Memasuki masa pensiun, Syaifuddin Muid menyatakan akan bergabung dengan PWRI dan tetap siap mengabdi kepada masyarakat.
“Selama masih dibutuhkan, saya akan menyumbangkan pokok-pokok pikiran,” katanya.
Menutup sambutannya, ia menyampaikan kalimat reflektif yang menyentuh hadirin:
“Pensiun itu pasti, sama seperti ajal. Yang terpenting adalah bagaimana kita meninggalkan jejak pengabdian.”
Tepuk tangan panjang pun mengiringi akhir sambutan, menandai berakhirnya satu bab pengabdian, dan dimulainya fase baru seorang pamong yang telah mendedikasikan hidupnya bagi Banggai. *
Reporter Sofyan Labolo



