Advertisement

Banggai

Hari Maleo Sedunia Diperingati di Luwuk Banggai, Pemateri BKSDA Sulteng dan Alto

558
×

Hari Maleo Sedunia Diperingati di Luwuk Banggai, Pemateri BKSDA Sulteng dan Alto

Sebarkan artikel ini
Hari Maleo Sedunia diperingati di Luwuk Kabupaten Banggai, Selasa (21/11/2023). (Foto: DKISP Banggai)

Luwuk Times, Banggai — Hari Maleo Sedunia diperingati di Luwuk Kabupaten Banggai, Selasa (21/11/2023). Dua pemateri diundang pada kegiatan yang berlangsung di ruang rapat umum kantor Bupati Banggai itu.

Bupati Banggai yang diwakili wakilnya, membuka kegiatan sosialisasi dan diskusi terbuka tentang perlindungan dan pelestarian burung Maleo tersebut.

Kegiatan itu dilaksanakan Pemda Banggai yang bekerjasama dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam Provinsi Sulawesi Tengah dan Yayasan Aliansi Konservasi Tompotika (Alto).

Bupati Banggai dalam sambutan tertulis yang disampaikan Wakil Bupati Furqanuddin menyampaikan rasa syukur dan penghargaan kepada semua pihak yang telah aktif terlibat dalam upaya pelestarian burung Maleo.

“Terima kasih kepada pihak-pihak yang telah konsen dalam perlindungan dan pelestarian Burung Maleo antara lain Alto, BKSDA Sulteng, PT. Donggi Senoro LNG, PT. Panca Amara Utama, Kelompok Pecinta Maleo, dan Relawan Pelestarian Burung Maleo. Termasuk pihak lain yang konsisten dan sungguh-sungguh dalam perlindungan dan pelestarian Maleo di Kabupaten Banggai,” ujar Furqanuddin.

Baca:  APBD Banggai Naik, Pendapatan Daerah Masih Didominasi Pembiayaan Kebutuhan Aparatur

Melalui kegiatan ini, ia mengajak seluruh peserta untuk memanfaatkan momentum tersebut sebagai wadah tukar menukar informasi dan meletakkan garis kebijakan yang terkait dengan aspek perlindungan dan pelestarian burung Maleo.

Pemateri pertama dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sulawesi Tengah, I Nyoman Ardika.

Ia memberikan wawasan mendalam terkait tumbuhan dan satwa yang dilindungi, khususnya burung Maleo.

Dalam presentasinya, ia menjelaskan tentang kekhasan dan keunikan Burung Maleo yang merupakan salah satu hewan endemik, serta rencana pemetaan dan penyebarannya di luar kawasan konservasi.

Ia juga menyoroti langkah-langkah tindak lanjut terkait Peraturan BKSDA Sulteng dan Peraturan Daerah yang mendukung pelestarian burung Maleo. Termasuk pembahasan dan implementasi Perjanjian Kerja Sama (PKS), Peraturan Desa (Perdes), dan Peraturan Daerah (Perda).

Baca:  Tahun Pertama Menjabat Bupati Banggai, Amirudin Raih Opini WTP

Sementara itu, pemateri kedua dari Yayasan Aliansi Konservasi Tompotika (Alto), Dr. Ir. Sukendra Mahalaya.

Ia menyampaikan bahwa program Alto selama melakukan upaya perlindungan terhadap Maleo, hutan dan rumah Maleo.

Alto memberikan gambaran konkret tentang pelestarian yang telah dilakukan, mencakup program-program untuk mendukung habitat alami burung Maleo dan menjaga keseimbangan ekosistem.

Kedua pemateri memberikan perspektif yang berdaya dorong bagi keberlanjutan pelestarian burung Maleo.

Melalui pemaparan dan kerjasama yang dijelaskan oleh BKSDA Sulteng dan ALTO, diskusi ini diharapkan dapat merumuskan langkah-langkah nyata dalam melibatkan diri pada pelestarian burung Maleo dan habitatnya. *

Ikuti terus berita kami di Google News