Close
IMG-20260928-WA0012

Bolehkah Saya Tinggal di Masjid?

567 dilihat
A-AA+A++

Oleh: Supriadi Lawani

BEBERAPA minggu lalu saya melihat seorang yang sangat miskin menurut ukuran saya.

Ia tidak punya rumah. Ia tinggal di sebuah pondok panggung sederhana, berdinding papan tua pondok itu milik orang lain yang dia izin numpang.

Di bawah pondok itu kandang ayam. Sulit menyebutnya rumah, karena rumah biasanya adalah tempat seseorang merasa aman untuk pulang.

Hari ini saya melihat pondok itu sudah kosong. Entah ia pergi ke mana.
Sebelum ia pergi, ada satu pertanyaan yang sampai sekarang masih terngiang di kepala saya.

“Budi, apa saya yang miskin ini boleh tinggal di masjid?”

Saya terdiam. Saya tidak tahu harus menjawab apa.

Masjid adalah tempat orang datang untuk shalat. Tempat orang bersujud. Tempat orang mengaji, berdoa, dan mengingat Allah.

Tetapi apakah masjid juga boleh menjadi tempat berteduh bagi seseorang yang tidak punya rumah?

Saya belum sempat menjawab, ia berkata lagi:

“Kan orang-orang sujud kepada Allah. Bisa menolong saya dengan membiarkan saya tinggal di masjid.”

Saya semakin tidak bisa menjawab.
Kalimat itu sederhana, tetapi terasa seperti pertanyaan yang jauh lebih besar daripada sekadar soal boleh atau tidak boleh tidur di masjid.

Ia seolah sedang bertanya kepada kita. Untuk apa orang-orang datang bersujud kepada Tuhan, jika di depan pintu rumah ibadah ada manusia yang tidak punya rumah?

Saya tidak sedang mengatakan bahwa setiap masjid harus berubah menjadi tempat tinggal.

Tentu ada aturan, ada kebersihan, ada keamanan, ada tata kelola, dan ada fungsi masjid yang harus dijaga.

Tetapi mungkin ada sesuatu yang lebih mendasar yang perlu kita tanyakan.

Apakah agama hanya mengatur bagaimana seseorang menghadap Tuhan, atau juga bagaimana manusia memperlakukan manusia lainnya?

Pasang Iklan Anda Disini_1