Close

Rindu Seperti Dulu

SofyanSofyan115 dilihat
A-AA+A++

Oleh: Fatiyah Suryani Mile

PERGI dengan Mentari pulang dengan rembulan, bukan lagi menjadi phrase yg pantas tuk disebut.

Kabut dan Asap menyelimuti langit. Warna kebiruan yang menjadi penenang hati tak tampak lagi tuk dipandang.

Rindu seperti dulu. Saat angin berbisik lembut di antara layar, membawa aroma laut yang begitu akrab, dan mata ini leluasa memandang jauh, menemukan damai di antara langit dan samudra.

Pagi ini berbeda. Di atas Perahu Layar yang terus membelah lautan, kupandang langit yang kehilangan warna Kabut dan asap mengaburkan cakrawala, seolah alam sedang menyimpan rahasia yang tak sanggup kuterjemahkan dengan kata-kata.

Namun Layar tetap terkembang.
Haluan tetap menuju Tatabau,
sebuah desa kecil di pesisir Buko Selatan, dekat Lumbi-Lumbia yang bersahaja, tempat laut dan daratan bertemu dalam kesunyian yang menyimpan keindahan

Aku akan tetap berlayar. Meski langit tak lagi sebiru kenangan, meski cakrawala tersembunyi di balik kabut, laut mengajarkanku: perjalanan tak selalu tentang keindahan, tetapi juga tentang kesetiaan menjaga harapan.

Rindu seperti dulu. *

Penulis adalah Ketua Asosiasi Jangkar, Direktur Yayasan Pemerhati Lingkungan dan Praktisi Pariwisata dan Pemerhati Lingkungan

Pasang Iklan Anda Disini_1