Oleh: Dr. Karmila P. Lamadang,S.H.,M.Pd
MAULID Nabi Muhammad SAW setiap tahun hadir sebagai momentum untuk mengenang kelahiran manusia mulia yang menjadi teladan bagi seluruh umat manusia.
Namun, peringatan Maulid Nabi semestinya tidak berhenti pada rangkaian acara seremonial, pembacaan selawat, atau kisah perjalanan hidup Rasulullah SAW yang kita dengarkan sesaat.
Lebih dari itu, Maulid Nabi adalah kesempatan untuk bertanya kepada diri sendiri sejauh mana keteladanan Rasulullah saw. telah hadir dalam kehidupan kita?
Pertanyaan ini menjadi semakin penting di tengah kehidupan generasi yang menghadapi perubahan sosial dan teknologi yang begitu cepat. Anak-anak dan remaja tumbuh dalam lingkungan digital yang menghadirkan begitu banyak figur untuk ditiru.
Mereka dapat mengenal tokoh melalui media sosial, video pendek, game , maupun berbagai platform digital. Persoalannya bukan semata-mata banyaknya figur yang hadir, tetapi siapa yang akhirnya menjadi teladan bagi mereka?
Di sinilah keteladanan Rasulullah saw. memiliki relevansi yang sangat kuat.
Allah SWT menegaskan bahwa dalam diri Rasulullah terdapat teladan yang baik bagi orang-orang yang mengharapkan rahmat Allah dan kehidupan akhirat.
Keteladanan tersebut bukan hanya dalam ibadah, tetapi juga dalam cara berbicara, memperlakukan orang lain, menyelesaikan persoalan, menghargai anak-anak, menghormati orang yang berbeda, serta membangun kehidupan yang penuh kasih sayang.
Krisis Keteladanan
Krisis keteladanan bukan berarti generasi saat ini tidak memiliki tokoh yang dikagumi. Justru sebaliknya, mereka memiliki begitu banyak figur yang dapat ditonton dan diikuti.
Tantangannya adalah memilih figur yang tepat untuk dijadikan panutan. Di ruang digital, popularitas sering kali menjadi ukuran keberhasilan.
Jumlah pengikut, jumlah tayangan, dan viralitas dapat membuat seseorang dianggap layak ditiru. Padahal, popularitas tidak selalu berbanding lurus dengan keteladanan.
Anak membutuhkan lebih dari sekadar sosok yang terkenal. Mereka membutuhkan figur yang menunjukkan kejujuran, tanggung jawab, kesabaran, kepedulian, keberanian, dan kasih sayang.
Karena itu, mengenalkan Rasulullah saw. kepada generasi muda tidak cukup dengan menghafalkan sejarah kelahiran, nama keluarga, atau perjalanan dakwah beliau. Anak perlu diajak memahami mengapa Rasulullah layak dicintai dan diteladani.
Rasulullah dan Pendidikan Akhlak
Salah satu kekuatan pendidikan Rasulullah SAW adalah keteladanan. Rasulullah tidak hanya menyampaikan ajaran melalui kata-kata, tetapi memperlihatkannya dalam tindakan.
Dalam mendidik anak, misalnya, Rasulullah menunjukkan kasih sayang dan penghargaan. Anak tidak dipandang sebagai manusia kecil yang harus selalu diperintah, tetapi sebagai pribadi yang memiliki perasaan, kebutuhan, dan potensi.
Pendekatan seperti ini sangat relevan dengan pendidikan anak masa kini. Anak tidak cukup hanya diberi nasihat tentang kejujuran jika lingkungan di sekitarnya justru memperlihatkan perilaku tidak jujur.
Anak tidak cukup diperintahkan untuk menghormati orang lain jika mereka menyaksikan orang dewasa mudah merendahkan dan memaki orang lain.
Anak belajar terutama dari apa yang mereka lihat.
Karena itu, pendidikan karakter membutuhkan keteladanan nyata. Orang tua yang ingin anaknya gemar membaca perlu memperlihatkan kebiasaan membaca.








