Advertising

Mendefenisikan Kembali Pers di Banggai

Sofyan
A-AA+A++

Oleh: Reza Fauzi

TULISAN ini saya buat bukan untuk menggurui siapa pun. Bukan pula untuk menunjuk media mana yang benar dan mana yang salah, siapa wartawan yang berada di pihak pemerintah, siapa yang berseberangan, atau siapa yang dekat dengan korporasi.

Saya hanya ingin mengajak kita berhenti sebentar dan melihat pekerjaan yang kita jalani. Kalau kemudian tulisan ini terasa seperti kritik, saya kira itu wajar. Sebab kritik yang saya maksud pertama-tama juga ditujukan kepada diri saya sendiri.

Saya pernah berada di dalam dunia jurnalistik dan sampai hari ini sesekali masih kembali ke sana. Jadi, saya tidak sedang berdiri di luar rumah lalu menunjuk-nunjuk rumah orang lain. Saya sedang melihat rumah yang pernah dan masih saya tempati.

Kita sering bicara tentang kemerdekaan pers. Setiap Agustus, kata itu terasa semakin sering terdengar. Kita bicara tentang kebebasan wartawan, tentang keberanian mengkritik pemerintah, tentang hak masyarakat mendapatkan informasi.

Semua itu benar. Tetapi ada satu pertanyaan yang jarang kita ajukan kepada diri sendiri: kalau tidak ada yang melarang kita menulis, apakah itu otomatis berarti kita sudah merdeka?

Saya kira belum tentu.

Di Banggai, kerja jurnalistik berjalan di tengah banyak kepentingan. Ada pemerintah dengan kebijakannya, ada partai politik dengan kepentingannya, ada perusahaan dan korporasi dengan investasi serta program-programnya, ada masyarakat yang berharap kepentingannya diperjuangkan.

Baca Juga:  SULTIM Jangan Kembali ke Titik Nol

Di tengah semua itu ada wartawan yang harus mencari berita, mengejar tenggat, menghidupi keluarga, dan pada saat yang sama dituntut tetap independen.

Tidak mudah.

Mungkin karena itulah dalam perjalanan waktu kita kemudian melihat kecenderungan bahwa para jurnalis dan media seperti memiliki lingkarannya masing-masing.

Ada yang dianggap dekat dengan pemerintah. Ada yang dikenal keras mengkritik pemerintah. Ada yang nyaman bekerja sama dengan korporasi.

Ada yang justru mengambil posisi berseberangan. Ada yang mungkin memilih jalan tengah. Saya tidak menganggap perbedaan itu sebagai dosa. Setiap orang memiliki pengalaman dan pertimbangannya sendiri.

Yang perlu kita khawatirkan adalah ketika perbedaan itu membuat kita lebih dulu melihat siapa yang menulis, baru kemudian melihat apa yang ditulis.

Kalau sebuah berita datang dari media yang kita sukai, kita mudah percaya. Kalau datang dari media yang selama ini kita anggap berseberangan, kita buru-buru curiga. Padahal berita tetap harus diuji dengan cara yang sama, siapa pun yang menulisnya.

Di sinilah saya kira kita perlu bercermin. Jangan-jangan tanpa sadar kita telah membawa perasaan, hubungan, bahkan kekecewaan pribadi ke dalam pekerjaan jurnalistik. Kita merasa pemerintah terlalu dekat dengan media tertentu.

Kita merasa korporasi terlalu banyak memberi ruang kepada media tertentu. Kita merasa media lain terlalu keras. Lama-lama yang kita perdebatkan bukan lagi isi beritanya, melainkan orang di balik berita itu.

Baca Juga:  Rp94,6 Miliar untuk Makan-Minumnya Pemerintahan Boros atau Memang Dibutuhkan?

Kalau sudah begitu, jurnalistik kehilangan sesuatu yang sangat penting: jarak.

Jarak bukan berarti memusuhi. Jarak juga bukan berarti tidak boleh berteman atau bekerja sama. Jarak adalah kemampuan untuk tetap melihat sesuatu dengan kepala dingin ketika hubungan pribadi mulai mengganggu penilaian.

Saya memahami bahwa ini tidak selalu mudah. Wartawan juga perlu hidup. Media juga perlu bertahan. Ada biaya liputan, biaya operasional, gaji, keluarga, dan banyak kebutuhan lain yang tidak bisa dibayar dengan idealisme.

Karena itu, saya kurang percaya pada pandangan yang menganggap seorang jurnalis harus hidup seolah-olah tidak memiliki kebutuhan ekonomi.

Tetapi ada batas yang harus kita jaga.

Kerja sama dengan pemerintah tidak boleh membuat berita berubah menjadi pujian tanpa pemeriksaan. Hubungan dengan perusahaan tidak boleh membuat persoalan yang menyangkut kepentingan masyarakat ditutup mata.

Sebaliknya, sikap kritis terhadap pemerintah atau korporasi juga tidak boleh membuat kita kehilangan keinginan untuk mengakui sesuatu yang memang benar.

Kadang kita lupa bahwa mengkritik itu mudah. Mengakui bahwa orang yang kita kritik ternyata melakukan sesuatu yang benar, justru lebih sulit.

Di situlah independensi diuji.

Saya juga merasa kita perlu berhati-hati dengan kebiasaan memberi cap kepada sesama jurnalis. “Dia pro pemerintah.” “Dia anti pemerintah.” “Media itu dekat dengan perusahaan.” “Yang itu memang selalu menyerang.”

Baca Juga:  Menyelamatkan Mayayap: Membangun Keadilan Ekologis di Tengah Investasi Pertambangan (Bagian III)

Bisa jadi ada pengalaman yang membuat penilaian seperti itu muncul. Tetapi kalau cap tersebut akhirnya menjadi ukuran untuk menilai semua karya jurnalistik seseorang, kita sedang melakukan kesalahan yang sama: menilai berita dari siapa yang membuatnya, bukan dari fakta yang dibawanya.

Padahal pemerintah tidak selalu salah. Korporasi tidak selalu benar. Masyarakat juga tidak selalu benar. Wartawan pun bisa salah.

Yang membedakan pekerjaan jurnalistik adalah kesediaan untuk memeriksa kesalahan itu dengan cara yang dapat dipertanggungjawabkan.

Karena itu saya lebih suka bertanya, bukan “dia di pihak mana?”, melainkan “apakah informasi ini benar?”

Apakah sumbernya jelas? Apakah sudah diverifikasi? Apakah pihak yang diberitakan sudah diberi kesempatan menjelaskan? Apakah konteksnya utuh? Apakah ada kepentingan yang tidak disampaikan kepada pembaca?

Pertanyaan-pertanyaan sederhana semacam itu mungkin terdengar biasa. Tetapi justru dari hal-hal sederhana itulah kepercayaan publik dibangun.

Kemerdekaan pers juga menurut saya tidak cukup dimaknai sebagai kebebasan dari pemerintah. Ada bentuk tekanan lain yang jauh lebih halus.

Kadang bukan larangan yang membuat kita berhenti kritis, tetapi hubungan baik. Bukan ancaman, melainkan kenyamanan. Bukan paksaan, tetapi rasa sungkan.

Kita mungkin pernah mengalami situasi ketika harus menulis sesuatu tentang orang yang kita kenal. Di sinilah hati dan profesi bisa saling tarik-menarik.

Example 120x600