LUWUK TIMES, Morowali – Perhelatan pesta olahraga terbesar dan paling bergengsi di Sulawesi Tengah, Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) X Sulteng 2026, resmi mengalami penyesuaian jadwal. Semula akan berlangsung pada 2–11 November 2026 di Kabupaten Morowali, hajatan akbar ini dipastikan bergeser ke tanggal 6–15 Desember 2026.
Keputusan pengunduran jadwal tersebut ditetapkan langsung oleh Gubernur Sulteng, H. Anwar Hafid, menyusul permohonan resmi dari Bupati Morowali selaku Ketua Panitia Pelaksana melalui Surat Bupati No. 400.4.1/134/DISPABUDPORA/IV/2026.
Penyesuaian ini kemudian ditindaklanjuti lewat Surat Edaran Gubernur No. 400.4/322/Dispora tertanggal 29 Juli 2026 yang ditujukan kepada seluruh bupati dan wali kota se-Sulteng.
Keterbatasan Fiskal dan Kesiapan Venue
Pengunduran agenda ini merespons dua tantangan utama di lapangan, yakni ruang fiskal daerah yang terbatas serta belum tuntasnya pembangunan fisik arena pertandingan.
Sejumlah pemerhati olahraga di Sulteng mengungkapkan bahwa tak hanya tuan rumah, hampir seluruh KONI kabupaten/kota peserta saat ini masih “harap-harap cemas” menunggu kepastian alokasi anggaran kontingen.
Pemerintah daerah masih sangat bergantung pada pencairan Dana Bagi Hasil (DBH) maupun skema transfer lainnya untuk menggembleng dan memberangkatkan atlet.
Di sisi lain, persiapan teknis tuan rumah juga memegang peranan kunci. Berdasarkan pantauan langsung Luwuk Times pekan lalu di Morowali, dari 27 cabang olahraga (cabor) yang akan dipertandingkan, terdapat 4 venue yang membutuhkan perhatian ekstra, yakni venue futsal, bola basket, bola voli, dan renang.

Kepala Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda, dan Olahraga (Dispabudpora) Kabupaten Morowali, Muhamad Amin, ST, MT, menegaskan bahwa proses pengerjaan terus dipacu dan menunjukkan tren positif.
“Insyaallah seluruh 27 venue akan rampung dan siap digunakan. Saat ini, secara keseluruhan bobot pengerjaan infrastruktur venue sudah menembus angka di atas 85 persen,” tegas Muhamad Amin optimis.
Peserta Efisiensi Strategy
Menanggapi pengunduran jadwal ini, Bupati Morowali sekaligus Ketua Panitia Pelaksana, Iksan Baharudin Abdul Rauf, menegaskan bahwa pada prinsipnya Morowali siap mengemban amanah sebagai tuan rumah.
“Porprov ini sejatinya gawean KONI, kami di daerah mengikuti arahan. Pengunduran ini murni karena situasi dan keadaan, terutama memberi ruang bagi daerah-daerah peserta menyusun kestabilan anggaran kontingen. Bagi Morowali, makin cepat dilaksanakan sebenarnya makin bagus,” ujar Iksan.
Kondisi ketatnya fiskal daerah juga diakui oleh daerah tetangga. Ketua KONI Kabupaten Morowali Utara (Morut), Dr. Delis Julkarson Hehi, memastikan Morut tetap berpartisipasi aktif, meski harus menerapkan strategi rasionalisasi.
“Atlet-atlet terbaik Morut sudah melewati tahap seleksi dan siap bertanding. Namun karena keterbatasan anggaran daerah, kami harus sangat selektif. Fokus dikerucutkan pada cabor prioritas yang berpotensi menyumbang medali. Target kami sederhana: memperbaiki peringkat ketimbang Porprov edisi sebelumnya,” tutur Dr. Delis.
Sementara itu, Sekretaris Umum (Sekum) KONI Kabupaten Tolitoli Mansur Pondang mengaku bersyukur dengan adanya pengunduran waktu pelaksanaan Porprov.
Kata dia, adanya pergeseran waktu akan membuat persiapan peserta bisa makin maksimal. Porprov di Morowali, Kabupaten Tolitoli akan tampil pada 20 cabang olahraga dengan estimasi 120 atlet.
Adapun kebutuhan anggaran untuk 120 atlet setidaknya diperlukan Rp.1,3 miliar. Angka ini diluar bonus atlet yang berprestasi.
Disinggung target yang disasar KONI Tolitoli, ia menjawab, “harus lebih baik dari Porprov IX di Luwuk Kabupaten Banggai”. *
Reporter Setiyo Utomo








