LUWUK TIMES – Gelaran olahraga multi event sekelas pekan olahraga provinsi (Porprov), pekan olahraga nasional (PON), Asian Games, Olympic, tanpa maskot (logo) akan terasa hambar.
Ibarat sayur tanpa garam. Maskot pada gelaran olahraga multi event sudah jadi kebutuhan.
Selain sebagai identitas, juga promosi dan kemeriahan. Sebagai identitas karena akan mempresentasikan ciri khas tuan rumah.
Simbolnya bisa hewan, tumbuhan atau budaya.
Porprov Sulteng ke-X tahun 2026 di Morowali, maskot (logo) yang dipilih adalah hewan Rusa yang dalam bahasa masyarakat Sulawesi Tengah (Sulteng) disebut “Jonga”.
Rusa atau Jonga merupakan hewan endemik Sulawesi, bisa dijumpai hampir disemua kabupaten di Sulteng.
Penangkaran rusa (Jonga) terbesar untuk kawasan timur Indonesia, ada di desa Wosu, kecamatan Bungku Timur, kabupaten Morowali.
Ketua Harian KONI Morowali, Syamsi Laonu, SE menuturkan kepada Luwuk Times, terpilihnya Si Jonga menjadi Maskot Porprov Sulteng ke-X, prosesnya lewat sayembara yang dilaksanakan KONI Morowali selaku tuan rumah Porprov.
“Maskot Si Jonga merupakan karya anak bangsa, putra-putri Morowali. Hak cipta Maskot Si Jonga untuk Porprov Sulteng ke-X kini jadi milik KONI Morowali,” terang Syamsi Laonu, SE.
Lebih jauh Ketua Harian KONI Morowali menjelaskan, rusa (Jonga) merupakan hewan yang energik.
Geraknya cepat, tinggi dan kuat.
Maskot Jonga tentu sangat bersesuaian dengan slogan olahraga ter-Akbar (Olympic). “Celtius, altius, fortius” lebih cepat, lebih tinggi, lebih kuat.
KONI Kabupaten Galau
Gelaran Porprov Sulteng ke-X tinggal 6 bulan. Meski giat sudah di pelupuk mata, tapi sebagian besar KONI kabupaten/kota di Sulteng masih galau dan pesimis.
Sebab, 27 cabor dan ratusan atlet yang telah mereka siapkan untuk “bertarung” di pesta olahraga paling Akbar, paling bergengsi di Sulteng (Porprov).
Hingga kini belum ada kepastian bisa berangkat ke Morowali, dikarenakan ketiadaan anggaran.
Beberapa pengurus KONI kabupaten di Sulteng, kepada Luwuk Times, mengatakan, pengurus dan atlet kami saat ini galau dan harap-harap cemas.
Yang bikin cemas.
Karena sampai hari ini anggaran untuk persiapan atlet dan kebutuhan kontingen ke Porprov bulan November 2026 di Morowali belum tersedia.
“Adanya efisiensi anggaran, imbasnya langsung dirasakan beberapa KONI kabupaten di Sulteng. Buktinya ada beberapa KONI kabupaten yang anggaranya masih nol rupiah,” ungkap salah satu pengurus KONI kabupaten yang minta namanya tidak dipublis.
Problem anggaran yang dialami KONI kabupaten, akhirnya membuat pengurus kabupaten (Pengkab) cabang olahraga (cabor) tidak bisa melakukan persiapan (latihan) untuk atlet yang mereka persiapkan.
Apalagi untuk training center (TC).
Persiapan minim tentu prestasi yang dihasilkan akan datar.





