Ketika Penghormatan Salah Alamat!

oleh -502 Dilihat
oleh
Reskidayanti

Maka, selama sebuah negara memiliki nilai strategis—baik secara ekonomi, politik, atau militer—maka kezaliman mereka terhadap umat Islam akan diabaikan.

Inilah sebab mengapa negara-negara Muslim bisa bersikap ramah terhadap pemimpin yang secara terang-terangan menindas kaum Muslimin di negaranya sendiri.

Sistem ini menanamkan logika bahwa kepentingan ekonomi jauh lebih penting daripada pembelaan terhadap akidah dan umat. Bahkan, luka-luka umat Islam di bawah tekanan kebijakan islamofobik bisa dianggap tidak relevan selama hubungan dagang dan investasi tetap berjalan.

Ini bukan hanya masalah kebijakan luar negeri, melainkan cermin dari rusaknya cara pandang yang dibentuk oleh sistem sekuler kapitalisme. Diplomasi seharusnya menjadi ruang untuk menyuarakan prinsip, bukan tempat untuk menjilat kekuasaan yang menindas.

Menyambut pemimpin negara islamofobia seolah tanpa masalah hanyalah memperlihatkan bahwa sistem ini telah kehilangan arah moral, dan hanya tunduk pada kekuatan materi.

Baca Juga:  Apa Dampak Kenaikan APBD Rp3,3 Triliun untuk Masyarakat Kabupaten Banggai?

Hubungan Diplomatik dalam Islam

Islam tidak membiarkan umatnya bingung dalam menghadapi musuh-musuh agama. Islam telah menetapkan bagaimana bersikap terhadap orang dan negara yang memusuhi agama Allah, apalagi jika mereka membuat kebijakan yang menyengsarakan umat Islam.

Dalam ajaran Islam, negara-negara di dunia dibagi menjadi dua: Darul Islam (wilayah yang menerapkan syariat Islam) dan Darul Kufur (wilayah yang tidak menerapkan Islam).

Hubungan dengan negara kufur pun ditentukan berdasarkan posisi dan sikap negara itu terhadap Daulah Islam. Jika mereka memusuhi Islam dan kaum Muslimin, maka sikap tegas, bahkan permusuhan, adalah bagian dari tuntunan syar’i.

Baca Juga:  Batik: Warisan Budaya, Cermin Jati Diri Bangsa

Tuntunan ini seharusnya menjadi pedoman utama bagi setiap Muslim, terlebih para penguasa. Apalagi di tengah penjajahan yang terus berlangsung di Palestina, di mana penguasa-penguasa Barat termasuk Prancis justru mendukung penjajahan tersebut secara politik, militer, dan ekonomi.

Maka menyambut pemimpin mereka dengan hangat bukan sekadar kekeliruan diplomatik, tapi bentuk nyata penghinaan terhadap penderitaan umat dan pengkhianatan terhadap Islam.

Solusi bagi umat bukanlah perbaikan parsial dalam sistem sekuler kapitalisme, melainkan mencampakkan sistem tersebut dan kembali kepada sistem Islam yang menyeluruh—Khilafah.

Hanya dengan sistem ini, umat Islam dapat bersikap tegas terhadap musuh-musuhnya, membela kaum Muslimin yang tertindas, dan memulihkan kembali kehormatan Islam di panggung dunia.

Sudah saatnya umat Islam sadar bahwa hanya dengan kembali kepada aturan Allah-lah kemuliaan dan perlindungan sejati akan terwujud.

Baca Juga:  Keruntuhan Israel, Pelan tapi Pasti

Apa yang kita saksikan hari ini bukanlah diplomasi yang bijak, melainkan hasil dari sistem yang rusak. Sistem sekuler kapitalisme telah melahirkan generasi pemimpin yang mengabaikan prinsip dan hanya mengejar kepentingan.

Selama sistem ini tetap menjadi fondasi politik global, umat Islam akan terus menjadi korban—tidak hanya di negara-negara barat, tapi juga oleh kelengahan dan kompromi dari negara-negara Muslim sendiri.

Sudah saatnya kita mempertanyakan dan menolak sistem ini, dan kembali kepada sistem yang menempatkan keadilan, akidah, dan pembelaan terhadap umat sebagai prioritas utama. *

**) Ikuti berita-berita Luwuk Times lainnya di Google News

No More Posts Available.

No more pages to load.