Ketua Umum BPL HMI Luwuk Banggai Angkat Suara, Kecam Dugaan Tindakan Represif Aparat terhadap Massa Aksi di Gorontalo

oleh -126 Dilihat
oleh

LUWUK TIMES — Gelombang solidaritas terhadap kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Gorontalo terus bermunculan. Kali ini, pernyataan sikap tegas datang dari Ketua Umum Badan Pengelola Latihan (BPL) HMI Cabang Luwuk Banggai, Arlin La Ili.

Dalam keterangan tertulis yang diterima Luwuk Times, Minggu (10/05/2026), secara tegas ia mengecam dugaan tindakan represif aparat kepolisian.

Itu terjadi saat aksi demonstrasi penolakan kedatangan Presiden Republik Indonesia di Gorontalo.

Menurutnya, tindakan represif terhadap massa aksi tidak boleh terjadi dalam ruang demokrasi yang menjunjung tinggi kebebasan berpendapat.

Ia menegaskan bahwa mahasiswa memiliki hak konstitusional untuk menyampaikan aspirasi di muka umum sebagaimana mendapatkan jaminan dalam undang-undang.

“Penyampaian pendapat adalah hak warga negara. Aparat keamanan seharusnya mengedepankan pendekatan humanis, persuasif, dan dialogis dalam mengawal aksi demonstrasi,” tegasnya.

Ia menilai, tindakan pengamanan yang berlebihan justru berpotensi memicu ketegangan di lapangan dan mencederai semangat demokrasi yang selama ini diperjuangkan.

Ekspresi Politik Mahasiswa

Peristiwa tersebut bermula saat kader HMI Cabang Gorontalo menggelar aksi demonstrasi. Hal itu sebagai bentuk ekspresi politik mahasiswa terhadap sejumlah kebijakan pemerintah serta momentum kunjungan Presiden RI ke wilayah tersebut.

Namun situasi lapangan memanas. Dalam proses pengamanan, sejumlah peserta aksi mengalami perlakuan yang tidak proporsional oleh pihak HMI.

Atas kejadian itu, Ketua Umum BPL HMI Cabang Luwuk Banggai Arlin La Ili menyampaikan keprihatinan mendalam sekaligus meminta adanya evaluasi menyeluruh terhadap pola pengamanan aksi massa oleh aparat kepolisian.

“Sebagai organisasi kader dan intelektual, kami mendukung penyampaian aspirasi secara damai. Tetapi kami menolak segala bentuk tindakan yang berpotensi melukai prinsip demokrasi dan kebebasan berekspresi,” ujarnya.

HMI Cabang Luwuk Banggai juga mendesak adanya transparansi serta klarifikasi resmi dari pihak kepolisian terkait insiden yang terjadi.

Mereka berharap peristiwa ini menjadi pelajaran penting bagi seluruh pihak agar pengamanan demonstrasi ke depan lebih mengedepankan komunikasi, penghormatan terhadap hak asasi manusia, dan menghindari pendekatan represif.

Hingga berita ini diterbitkan, pihak kepolisian setempat belum memberikan pernyataan resmi terkait dugaan tindakan represif tersebut.

Sementara itu, insiden di Gorontalo masih menjadi perhatian serius berbagai kalangan mahasiswa dan aktivis sejumlah daerah.

Banyak pihak berharap ruang demokrasi tetap terjaga dan aspirasi masyarakat dapat disampaikan tanpa rasa takut maupun intimidasi. *