Penegasan Beniyanto Pada Konsolidasi Partai: Kader Golkar Banggai Harus Hadir, Bergerak dan Tuntas Hingga Desa

oleh -11 Dilihat
oleh
Ketua DPD II Partai Golkar Banggai sekaligus anggota Komisi XII DPR RI, H. Beniyanto Tamoreka, saat diwawancara wartawan, bertempat hotel Estrela Luwuk, Rabu (18/03/2026). (Foto Sofyan Labolo Luwuk Times)

LUWUK TIMES – Di tengah suasana Ramadhan yang penuh makna, sebuah pesan menyentuh sekaligus menggugah datang dari Ketua DPD II Partai Golkar Kabupaten Banggai, Beniyanto Tamoreka buat para kadernya.

Dalam rapat pengurus yang terangkaikan dengan pendidikan politik, buka puasa bersama, serta santunan anak yatim, Rabu (18/3/2026) malam, Beniyanto berbicara bukan hanya sebagai pemimpin partai, tetapi juga sebagai sosok yang ingin membangunkan semangat kadernya.

Dengan nada tegas namun penuh harap, ia menargetkan bahwa kepengurusan Partai Golkar Kabupaten Banggai harus rampung hingga ke tingkat desa pada tahun ini.

“Banggai harus selesai sampai kepengurusan desa,” ujarnya mantap kepada ratusan kader.

Target tersebut bukan tanpa alasan. Berdasarkan hasil konsolidasi bersama DPD I Golkar Sulawesi Tengah, seluruh DPD II wajib menuntaskan musyawarah kecamatan (Muscam) paling lambat Juli 2026.

Evaluasi pun akan ia lakukan. Bagi pengurus kecamatan yang tidak aktif, akan terganti, bahkan hingga penunjukan pelaksana tugas (Plt).

Pembentukan PK Berbasis Dapil

Pembentukan pengurus kecamatan berbasis daerah pemilihan (dapil). Untuk dapil I dan II target rampung pada April. Sementara dapil III dan IV menyusul pada Mei 2026. Jika belum terbentuk, Plt akan turun pada Juni.

Namun di balik target dan strategi itu, ada kegelisahan yang Beniyanto sampaikan. Ia menyinggung sikap sebagian kader yang merasa tidak terlibat saat momentum politik.

“Lucu kedengarannya. Katanya tidak dilibatkan, padahal dia pengurus. Dalam politik, diundang atau tidak, kita harus hadir dan berjuang,” sindirnya, mengingatkan.

Ia juga mengungkapkan pengalaman pribadinya saat turun ke daerah pemilihan. Dalam beberapa kunjungannya, ia mengaku tak mendapat pendampingan kader.

“Harusnya ada yang mendampingi. Tapi tidak ada. Ini yang perlu kita benahi bersama,” ucapnya dengan nada kecewa.

Pada penghujung penyampaiannya, Beniyanto meninggalkan pesan yang lebih dalam bukan sekadar soal politik, tetapi tentang sikap hidup.

“Kita hidup ini harus punya prinsip. Jangan pernah kita sedih. Karena orang yang terus larut dalam kesedihan tidak akan mampu melewati masa lalunya,” pesannya.

Baca Juga:  Puluhan Pengurus PAN Banggai Kompak Mundur, Bongkar Dugaan Pelanggaran AD/ART hingga Kepemimpinan Otoriter

Malam itu, di tengah kebersamaan dan santunan bagi anak yatim, pesan Beniyanto terasa lebih dari sekadar instruksi politik.

Ia adalah panggilan hati agar kader tidak hanya menjadi nama dalam struktur, tetapi benar-benar hadir, bergerak, dan berjuang. *

Reporter Sofyan Labolo