Takdir Politik

oleh -589 Dilihat
oleh
Ilustrasi

Oleh: Herdiyanto Yusuf

POLITIK datang dan pergi, kekuasaan selalu berpindah tangan. Tapi jejak tulisan akan selalu tinggal.

Ia menjadi arsip kecil tentang bagaimana satu masa pernah diperdebatkan, dihidupi, dan akhirnya dikenang.

Tak sengaja, saya menemukan arsip tulisan ini saat membongkar dokumen perusahaan lama yang tersimpan di Google Foto.

Beberapa tulisan dibuat jauh sebelum hiruk pikuk Pilkada 2020.

Saat itu, nama-nama seperti Sulianti “Anti” Murad, Syamsul Bahri “Bali” Mang, hingga Amirudin sudah mulai mengisi panggung politik Banggai.

Baca Juga:  Anak Perempuanku dan Kemalasannya

Tentu saja selain petahana, Winstar jilid 2. Saya menulisnya murni sebagai jurnalis, sebagai pengamat yang merekam dinamika, tidak sebagai bentuk dukungan politik.

Dan takdir memang punya alurnya sendiri.

Anti dan Bali sempat dirumorkan berpasangan, tetapi akhirnya Anti maju bersama Ust. Ali Hamu.

Pertarungan itu berakhir dengan kekalahan dari pasangan AT–FM.

Tapi empat tahun kemudian, Pilkada 2024, Anti–Bali benar-benar bersatu.

Namun takdir kembali berpihak pada AT–FM jilid 2.

Baca Juga:  Prabowo Sadewo; Macan Asia Tiba-tiba Mengaum

Pada 2020, di tengah perputaran nama lama, muncul kejutan.

Amirudin—figur yang nyaris tak pernah masuk radar utama—tiba-tiba melesat.

Kehadirannya mengubah arah kompetisi, menyalip kandidat lama, bahkan memaksa peta kekuasaan beradaptasi.

Politik lokal pada akhirnya menunjukkan wajah aslinya: bukan semata tentang nama besar, melainkan juga soal momentum, keberanian, dan kemampuan membaca arus.

Sedangkan pada Pilkada 2024, saya berada di luar gelanggang.

Hampir tidak mengikuti dinamika yang terjadi.

Baca Juga:  Jurnalisme La Palma: Melukai Tapi Tak Berdarah

Sakit dan proses panjang pemulihan membuat saya kosong dari riuh politik, bahkan apolitik.

Tapi justru dari ruang hening itu, saya belajar kembali mensyukuri kesehatan—dan merasakan betapa berartinya bisa menulis dengan hati yang bebas.

Bagi saya, itu jauh lebih penting dari sekadar hiruk pikuk siapa menang dan siapa kalah.

Sebab kesehatan memerdekakan, dan kemerdekaan itu yang membuat saya bisa terus menulis tanpa tendensi. *

No More Posts Available.

No more pages to load.