Close

Refleksi Sumpah Pemuda: Menagih Komitmen Pemberdayaan Tenaga Kerja Lokal di Kabupaten Banggai

SofyanSofyan118 dilihat
Putra Rasyida
A-AA+A++

Oleh: Putra Rasyida, S.H

MOMENTUM Hari Sumpah Pemuda yang diperingati setiap tanggal 28 Oktober selalu membawa semangat persatuan, kedaulatan, dan kebangkitan bangsa.

Di tengah dinamika modernisasi dan industrialisasi Indonesia saat ini, esensi dari sumpah pemuda tidak lagi sekadar tentang pertumpahan darah melawan penjajah fisik, melainkan perjuangan mewujudkan keadilan sosial dan kesejahteraan ekonomi bagi rakyatnya sendiri.

Di Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah, perjuangan ini termanifestasi nyata dalam satu isu krusial: kedaulatan tenaga kerja lokal di tanah sendiri.

Kabupaten Banggai saat ini telah menjelma menjadi salah satu pusat pertumbuhan ekonomi baru di Indonesia Timur. Investasi berskala besar di sektor industri pengolahan migas, nikel, hingga perkebunan terus mengalir.

Secara makro, kondisi Indonesia memang menunjukkan pertumbuhan ekonomi yang positif, namun tantangan besar yang dihadapi adalah bagaimana memastikan bahwa pertumbuhan ini bersifat inklusif dan tidak meninggalkan pemuda serta masyarakat lokal sebagai penonton di tanah kelahirannya.

Pemberdayaan tenaga kerja lokal di Kabupaten Banggai bukan lagi sebuah imbauan moral, melainkan kewajiban strategis yang mendesak. Kehadiran industri modern menuntut penyerapan tenaga kerja yang masif.

Di sinilah komitmen pemerintah daerah dan pihak swasta diuji. Sumpah Pemuda mengajarkan kita untuk bertumpah darah yang satu, tanah Indonesia. Oleh karena itu, kekayaan alam yang dikeruk dari bumi Banggai sudah sepatutnya memberikan dampak kesejahteraan yang paling pertama dan utama bagi pemuda dan masyarakat Banggai.

Namun, realitas di lapangan sering kali menghadapi tembok besar bernama kesenjangan kompetensi (skill gap). Industri kerap berdalih bahwa tenaga kerja lokal belum memenuhi kualifikasi global yang dibutuhkan.

Menjawab tantangan ini, semangat Sumpah Pemuda harus diwujudkan dalam aksi nyata kolaboratif. Pemerintah Kabupaten Banggai harus bertindak agresif melalui penyusunan regulasi yang tegas seperti optimalisasi Perda ketenagakerjaan lokal serta penyediaan fasilitas pelatihan vokasi (Balai Latihan Kerja) yang link-and-match dengan kebutuhan industri yang ada.

Di sisi lain, pihak perusahaan atau investor tidak boleh hanya menjadikan komitmen pemberdayaan lokal sebagai pemanis di atas kertas CSR (Corporate Social Responsibility).

Harus ada transfer pengetahuan (transfer of knowledge) dan teknologi yang terstruktur. Pemuda Banggai harus diberikan kesempatan menduduki posisi-posisi strategis, bukan sekadar mengisi pos pekerjaan kasar atau administratif tingkat bawah.

Bagi para pemuda di Kabupaten Banggai, Hari Sumpah Pemuda adalah alarm untuk berbenah. Menuntut hak tanpa meningkatkan kapasitas diri adalah hal yang sia-sia. Pemuda Banggai harus adaptif, menguasai teknologi, berintegritas, dan memiliki daya saing tinggi agar mampu menjawab tantangan industri.

Menghubungkan kondisi Indonesia hari ini dengan realitas di Kabupaten Banggai membawa kita pada satu kesimpulan: kedaulatan sejati sebuah daerah diukur dari seberapa berdaya masyarakat lokalnya.

Menghidupkan kembali roh Sumpah Pemuda di era industrialisasi Banggai berarti memastikan bahwa setiap tetes keringat pemuda lokal dihargai, setiap potensi daerah dioptimalkan, dan setiap investasi yang masuk menjadi jembatan menuju kesejahteraan bersama, bukan pemicu ketimpangan sosial.

Sudah saatnya tenaga kerja lokal Banggai menjadi tuan rumah dan aktor utama pembangunan di daerahnya sendiri. *

Penulis adalah Wakil Ketua Ikatan Mahasiswa dan Pemuda Bajo Jayabakti (IMPBJ) Pagimana

Pasang Iklan Anda Disini_1