LUWUK TIMES – Di tengah gempuran digitalisasi dan perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI), harian Suara Merdeka membuktikan diri sebagai salah satu media yang mampu bertahan lintas generasi.
Memasuki usia ke-76 tahun pada 11 Februari 2026, media regional asal Jawa Tengah ini terus beradaptasi tanpa meninggalkan akar jurnalistiknya.
Dalam kunjungan rombongan 12 media Kabupaten Banggai Kamis 2 April 2026 ke kantor redaksi, peserta disuguhi arsip bersejarah edisi perdana tahun 1950.
Kala itu, Suara Merdeka terbit dengan empat halaman. Dua halaman berita dan dua halaman iklan dalam format hitam putih.
Kini, jejak panjang tersebut menjadi simbol konsistensi dan ketahanan media.
Wakil Pemimpin Redaksi, Lukardi, menjelaskan bahwa Suara Merdeka tetap mempertahankan edisi cetak meski tren digital semakin dominan.
“Segmen pembaca cetak masih ada, sehingga tetap kami jaga. Namun, kami juga sudah masuk ke platform online sejak 1996,” ujarnya.
Tagline Suara Merdeka
Sebagai media regional, Suara Merdeka terkenal dengan tagline baru “Perekat Komunitas Jawa Tengah”, menggantikan slogan lama independen, objektif tanpa prasangka.
Saat ini, jaringan media ini memiliki 17 grup dengan berbagai subdomain di sejumlah daerah seperti Jogja, Solo, Bali, hingga Nusa Tenggara Timur, dan berencana ekspansi ke Sumatera Utara.
Transformasi kepemimpinan juga berjalan dinamis. Setelah didirikan oleh tokoh asal Solo, estafet dilanjutkan generasi kedua oleh Budi Santoso pada 1980, hingga kini generasi ketiga mulai mengakselerasi digitalisasi perusahaan.
Putra Budi Santoso bahkan telah menjabat sebagai CEO sejak tahun 2000.
Pemimpin Redaksi Agus Toto bersama jajaran manajemen seperti Doni (Manager Bisnis) dan Ida (Manager Komunikasi) turut hadir dalam pertemuan tersebut, bersama sejumlah senior yang telah mengabdi puluhan tahun.
Selain fokus pada pemberitaan, Suara Merdeka juga aktif dalam kegiatan sosial. Seperti penganugerahan “Lurah Hebat” dan tradisi silaturahmi dengan alim ulama yang telah berlangsung sejak 1994.
Perwakilan dari berbagai pihak turut memberikan pandangan. Ketua PWI Banggai, Abdul Saleh, mengapresiasi ketahanan Suara Merdeka sebagai media grup di tengah kondisi media daerah yang kini banyak beralih ke platform online dan bergantung pada pendapatan digital.
Sementara itu, perwakilan SKK Migas, Mutiara, menyoroti keberhasilan Suara Merdeka bertahan selama puluhan tahun sebagai contoh adaptasi media dari cetak ke digital.
Menanggapi tantangan ke depan, pihak redaksi menegaskan pentingnya menjaga konten lokal sebagai kekuatan utama.
“Media cetak memang menurun, itu keniscayaan. Tapi kebutuhan publik terhadap konten lokal tetap tinggi. Kami melakukan pemetaan kebutuhan pembaca agar tetap relevan, bahkan di tengah era AI,” ungkap Lukardi.
Kunjungan ini juga dihadiri perwakilan JOB Tomori, Visnu Wardhana, yang menyampaikan apresiasi sekaligus memperkenalkan peran lembaganya dalam industri migas.
Dengan pengalaman panjang dan strategi adaptif, Suara Merdeka menegaskan posisinya sebagai media regional yang tidak hanya bertahan, tetapi terus berkembang mengikuti zaman. *
Reporter Sofyan Labolo



