LUWUK TIMES, BATUI — Sabtu pagi (11/07) itu, Lapangan Tolando di Kelurahan Sisipan, Kecamatan Batui Kabupaten Banggai, tidak seperti biasanya. Riuh rendah tawa dan obrolan hangat memecah udara pagi yang masih bersih. Ratusan pasang kaki sebagian besar tak lagi muda. Mereka berjejer rapi dengan kaos olahraga yang seragam.
Ketika musik mulai mengalun, gerakan senam sehat Prolanis (GSP) 335 dimulai. Di antara kerumunan itu, tampak Paiman Tjitrodimedjo.
Wajahnya yang dihiasi garis-garis usia tampak bersemangat mengikuti setiap ritme gerakan. Paiman adalah satu dari sekian banyak potret pejuang penyakit kronis yang menolak menyerah pada keadaan.
Bagi Paiman dan ratusan anggota Program Pengelolaan Penyakit Kronis (Prolanis) lainnya, pagi itu bukan sekadar tentang keringat yang bercucuran. Ini adalah perayaan atas kesempatan kedua untuk hidup lebih sehat dan bermakna.
“Manfaatnya benar-benar saya rasakan,” ujar Paiman dengan mata berbinar setelah sesi senam usai. “Saya menjadi lebih memahami kondisi kesehatan saya, lebih disiplin menjalani pengobatan, dan kualitas hidup pun menjadi lebih baik.”
Lebih dari Sekadar Jaminan Kesehatan
Kegiatan bertajuk Semarak Gerak Sehat Prolanis ini diinisiasi oleh BPJS Kesehatan Cabang Luwuk dalam rangka menyambut Hari Ulang Tahun BPJS Kesehatan ke-58.
Namun, di lapangan, esensinya jauh melampaui sebuah seremonial ulang tahun. Ini adalah ruang aman di mana para lansia dan penderita penyakit kronis saling menguatkan.

Kepala BPJS Kesehatan Cabang Luwuk, Mitra Akbar, memandang antusiasme ini sebagai bukti nyata bahwa jaminan kesehatan telah mengubah paradigma masyarakat.
Rasa takut akan biaya berobat yang mahal, perlahan luruh berganti menjadi kesadaran untuk merawat diri.
“Berkat Program JKN, kini masyarakat tidak lagi ragu untuk datang berobat ke puskesmas maupun rumah sakit. Kami ingin mendorong peserta Prolanis agar semakin aktif menjaga kesehatannya melalui aktivitas fisik, pemeriksaan kesehatan, dan edukasi yang rutin,” kata Mitra hangat.
Sinergi dan Kemudahan di Ujung Jari
Kecamatan Batui sendiri kini menjadi salah satu wilayah percontohan yang paling progresif.
Berdasarkan penuturan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Banggai, Nurmasita Datu Adam, wilayah ini telah menghidupkan 11 klub Prolanis dengan total lebih dari 400 peserta aktif.
Program ini sekaligus menjadi pilar penting bagi visi Bupati Banggai dalam menekan angka kematian akibat penyakit tidak menular.
Menariknya, birokrasi yang dulu kerap dianggap rumit, kini dipangkas habis demi kenyamanan para orang tua ini.
“Saat ini masyarakat cukup menunjukkan KTP atau NIK saat mengakses layanan di fasilitas kesehatan. Tidak perlu lagi membawa kartu JKN fisik, yang terpenting status kepesertaan JKN dalam kondisi aktif,” jelas Nurmasita, mengajak warga lain yang belum bergabung untuk segera mendaftar.
Apresiasi senada juga datang dari Camat Batui, Umar Syamsuddin Abdul. Ia melihat kolaborasi bulanan antara Puskesmas Batui dan BPJS Kesehatan sebagai “jantung” yang menjaga denyut kesehatan warganya tetap stabil.
Saat matahari mulai meninggi di Lapangan Tolando, acara mungkin telah usai. Namun, semangat yang ditinggalkan ratusan peserta pagi itu tetap menyala.
Di usia BPJS Kesehatan yang ke-58, langkah kaki Paiman dan kawan-kawannya adalah bukti hidup: bahwa menua itu pasti, tetapi hidup sehat dan bahagia adalah pilihan yang bisa diperjuangkan bersama. *


