LUWUK TIMES, Banggai – Anggota DPR RI/MPR RI, Ir. H. Beniyanto Tamoreka, S.T., kembali turun menemui masyarakat Kabupaten Banggai. Kali ini agendanya adalah Penyerapan Aspirasi Masyarakat. Kegiatan itu berlangsung di Rumah Aspirasi Beniyanto, samping Masjid BTN Kilo 5, Kecamatan Luwuk Selatan, Selasa (7/7/2026).
Sebanyak 100 lebih peserra hadir pada kegiatan tersebut. Mereka berasal dari masyarakat, jajaran pengurus Partai Golkar Kabupaten Banggai, Pengurus Kecamatan Luwuk.
Bahkan tak abesn sejumlah anggota Fraksi Partai Golkar DPRD Banggai. Di antaranya Helton Abdul Hamid, Rika Saripudin Ramli Mbani, Lisa Sundari Wajidah, dan Eni Matuliang.
Dalam kesempatan itu, Beniyanto menegaskan bahwa agenda reses dan penyerapan aspirasi merupakan bagian penting dari tugas konstitusional anggota DPR RI. Tujuannya untuk mendengar secara langsung kebutuhan masyarakat sekaligus memperjuangkannya di tingkat nasional.
“Saya baru tiba di Luwuk hari ini. Agenda saya cukup padat dan besok harus kembali berangkat ke Makassar untuk kunjungan kerja yang berkaitan dengan sektor kelistrikan,” ungkap Beniyanto di hadapan peserta.
Pada kesempatan tersebut, Beniyanto memaparkan perkembangan pembahasan regulasi mengenai energi baru dan terbarukan yang saat ini sedang digodok di DPR RI. Ia menjelaskan terdapat empat sumber utama pembangkit listrik, yakni tenaga air, tenaga angin, tenaga surya, dan panas bumi (geothermal).
Menurutnya, pembangkit listrik tenaga panas bumi masih masuk dalam kategori sektor pertambangan. Sedangkan tiga sumber energi lainnya termasuk dalam kelompok energi baru dan terbarukan yang bukan berasal dari sumber daya alam tambang.

“Saat ini kami sedang menyusun regulasi agar energi baru dan terbarukan tidak hanya menjadi solusi kebutuhan energi nasional. Akan tetapi juga mampu memberikan kontribusi sebagai sumber pendapatan bagi pemerintah pusat maupun daerah,” jelasnya.
Beniyanto mengatakan penyusunan rancangan undang-undang tersebut dilakukan secara komprehensif dengan melibatkan berbagai pihak, termasuk dua perguruan tinggi besar di Indonesia Timur, yakni Universitas Hasanuddin (Unhas) dan Universitas Muslim Indonesia (UMI).
Selain itu, proses penyusunan regulasi juga mengakomodasi masukan dari pemerintah, pelaku usaha, akademisi, hingga masyarakat agar kebijakan yang dihasilkan benar-benar memberikan manfaat besar bagi daerah maupun negara.
Dalam dialog bersama warga, Beniyanto juga berbagi pengalaman usai mengikuti kunjungan kerja ke London bersama sejumlah anggota DPR RI. Kunjungan tersebut membahas sektor energi bersama PLN, Pertamina, serta investor dari luar negeri.
Ia mengungkapkan, selain mempelajari perkembangan teknologi energi, rombongan juga mengamati pola kehidupan masyarakat di Inggris yang dinilainya sederhana meski memiliki tingkat kesejahteraan yang tinggi.
“Di London biaya hidup memang tinggi, tetapi pendapatan masyarakat juga tinggi. Yang menarik, kami tidak melihat budaya hidup bermewah-mewahan. Justru masyarakatnya lebih banyak berjalan kaki sehingga pola hidup sehat benar-benar terlihat,” tuturnya.
Beniyanto menilai pengalaman tersebut menjadi pelajaran penting bagi Indonesia, tidak hanya dalam pengembangan teknologi, tetapi juga dalam membangun budaya hidup hemat, disiplin, dan produktif.
Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan sesi dialog terbuka. Sejumlah peserta menyampaikan berbagai aspirasi, termasuk anggota DPRD Banggai Helton Abdul Hamid serta Haris Hakim.

Salah satu isu yang paling banyak disampaikan masyarakat adalah persoalan distribusi tabung gas elpiji bersubsidi dan ketersediaan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi yang masih menjadi keluhan di sejumlah wilayah Kabupaten Banggai.
Menanggapi hal tersebut, Beniyanto memastikan seluruh aspirasi yang diterimanya akan dibawa dan diperjuangkan dalam pembahasan di DPR RI bersama kementerian dan lembaga terkait.
“Aspirasi masyarakat inilah yang menjadi dasar perjuangan kami di Senayan. Semua masukan akan kami tindak lanjuti sesuai kewenangan agar dapat memberikan solusi nyata bagi masyarakat,” tegasnya. *
Sofyan Labolo


