LUWUK TIMES – Aroma Lebaran mulai terasa di Kota Luwuk. Di tengah geliat masyarakat yang bersiap menyambut hari kemenangan, denyut kebutuhan energi pun ikut meningkat. Dalam suasana itulah, Anggota DPR RI Komisi XII, Beniyanto Tamoreka, turun langsung meninjau Terminal BBM Luwuk, Selasa (17/3/2016).
Kunjungan ini bukan sekadar agenda formal. Ia hadir sebagai bentuk tanggung jawab untuk memastikan dapur-dapur warga tetap mengepul. Kendaraan tetap melaju dan aktivitas ekonomi tidak tersendat pada momen krusial menjelang Idul Fitri.
Bersama unsur Pemerintah Daerah Banggai, pihak kepelabuhanan, serta TNI-Polri, Beniyanto menyusuri area terminal. Ia berdialog dengan petugas, hingga memantau langsung distribusi BBM dan LPG yang menjadi urat nadi kehidupan masyarakat.
Dari hasil pemantauan, Beniyanto yang juga Ketua DPD Partai Golkar Kabupaten Banggai ini memastikan kabar baik, bahwa stok BBM dan LPG dalam kondisi aman.
Ketersediaan energi cukup untuk memenuhi lonjakan kebutuhan masyarakat selama periode Lebaran.
Namun di balik kepastian itu, Beniyanto tak menutup mata terhadap persoalan yang masih membayangi.
Ia menyoroti tingginya harga LPG di tingkat pengecer yang kerap dikeluhkan warga. Lebih jauh, ia juga mencium adanya indikasi praktik kecurangan dalam rantai distribusi energi.
“Distribusi energi harus tepat sasaran. Tidak boleh ada ruang bagi permainan yang merugikan masyarakat,” tegasnya dengan nada serius.
Bagi Beniyanto, energi bukan sekadar komoditas, melainkan hak dasar yang menyangkut hajat hidup orang banyak.
Karena itu, ia berkomitmen membawa temuan di lapangan sebagai bahan aspirasi ke parlemen, guna mendorong sistem distribusi yang lebih adil dan transparan.
Kunjungan ini sekaligus menjadi penanda bahwa pengawasan terhadap sektor energi tidak akan kendur.
Terlebih di masa-masa rawan seperti menjelang Idul Fitri, ketika kebutuhan melonjak dan potensi penyimpangan ikut meningkat.
Ujung timur Sulawesi Tengah, upaya menjaga nyala energi itu terus dilakukan, agar Lebaran benar-benar menjadi momen penuh berkah, tanpa bayang-bayang kelangkaan. *
Editor Sofyan Labolo



