LUWUK TIMES – Ustad Muadz melanjutkan materi tentang kaidah kehidupan, pada kajian Alquran bertempat Masjid Agung An-Nuur Luwuk, Rabu (04/03/2026).
Pada Ramadhan ke 15 bada Shalat Subuh, Ustad Muadz mengangkat pembahasan dari Surah Al-Baqarah ayat 189 tentang hilal (bulan sabit). Ia sekaligus menyinggung tradisi masyarakat jahiliah.
Ia menjelaskan, pada masa itu terdapat kebiasaan sepulang haji. Yakni seseorang memasuki rumah dari arah belakang atau samping, bukan dari pintu depan seperti biasanya. Dan tradisi tersebut diklaim sebagai bentuk ibadah.
“Padahal, itu bukanlah syariat dan bukan ukuran kebaikan di sisi Allah,” jelasnya.
Menurutnya, makna yang benar dari peningkatan ibadah adalah adanya perubahan kualitas diri sepulang dari haji atau umrah. Yaitu menjadi lebih taat, lebih baik dan lebih dekat kepada Allah.
Meluruskan Cara Pandang Jahiliah
Dalam kajian tersebut, Ustad Muadz menekankan bahwa Alquran hadir untuk meluruskan pola pikir jahiliah. Termasuk dalam hal beribadah. Ibadah, tegasnya, harus sesuai jalan yang telah Allah tetapkan.
“Siapa yang ingin sampai kepada Allah, maka tempuhlah pintu atau jalan yang Allah siapkan,” ujarnya.
Ia mencontohkan tata cara salat, puasa, haji, dan umrah yang telah diatur secara jelas dalam syariat.
Ia juga mengulas sejarah kaum Quraisy yang menyekutukan Allah dengan menyembah patung Hubal.
Masyarakat saat itu berdalih bahwa mereka tidak menyembah patung tersebut. Melainkan menjadikannya sebagai perantara untuk mendekatkan diri kepada Allah.
Namun, keyakinan tersebut tetap dianggap sebagai kesyirikan karena Allah tidak membutuhkan perantara.
Fenomena serupa, lanjutnya, pernah terjadi pada kaum Nabi Idris.
Awalnya, patung Nabi Idris dibuat untuk mengenang orang-orang saleh yang telah wafat.
Namun, pada generasi berikutnya, patung tersebut justru mereka sembah dan menjadi sumber kesesatan.
“Ini lah pentingnya menjaga kemurnian ajaran. Syariat dari Allah dan Rasulullah itulah yang harus menjadi dasar,” tegasnya.
Relevan dengan Kehidupan Saat Ini
Ustad Muadz mengingatkan bahwa kaidah ini sangat relevan dalam kehidupan masa kini.
Ia menyoroti bahaya munculnya kelompok-kelompok yang berani menghalalkan apa yang telah Allah haramkan.
Dalam mencari ilmu agama pun, umat Islam harus menempuh jalur yang benar, melalui pintu-pintu yang telah Allah dan Rasul-Nya tetapkan, agar tidak terjerumus dalam kesalahan pemahaman.
Sebagai penutup, ia menyampaikan kesimpulan penting dari kajian tersebut.
Yakni membiasakan diri mengutamakan hal-hal yang pokok dan prinsip. Ketika menghadapi persoalan, selesaikan inti masalahnya dan bersabarlah dalam prosesnya.
“Kesabaran dan fokus pada pokok persoalan adalah cara terbaik untuk mendapatkan solusi,” pungkasnya.
Kajian Ramadan ini menjadi pengingat bagi jamaah untuk terus memperbaiki kualitas ibadah.
Dan tidak sekadar menjalankan tradisi, tetapi benar-benar meniti jalan yang telah Allah tetapkan. *
Reporter Sofyan Labolo
















