Tarawih Terakhir di Masjid Agung An-Nuur Luwuk: Shaf yang Menyusut, Rindu Beramal di Bulan Ramadhan

oleh -32 Dilihat
oleh
Ketua DKM Agung An-Nuur Luwuk, H. Asri Abasa memberikan sambutan singkat pada hari terakhir Ramadhan, Kamis (19/03/2026). (Foto Sofyan Labolo Luwuk Times)

LUWUK TIMES – Malam itu, Kamis (19/03/2026), Masjid Agung An-Nuur Luwuk tidak seramai biasanya. Tidak ada riuh anak-anak berlarian, tidak pula barisan shaf yang rapat hingga ke pelataran seperti awal Ramadan.

Hanya empat shaf laki-laki yang terbentang. Sisi perempuan, bahkan tak lebih dari satu deretan. Ruang luas masjid seakan menyisakan gema sunyi yang terasa berbeda, lebih dalam dan lebih menyentuh.

Waktu menunjukkan usai shalat Isya. Namun para jamaah belum beranjak untuk memulai tarawih. Mereka duduk dalam diam. Sebagian berzikir pelan. Sebagian lain menatap kosong ke depan. Malam itu bukan sekadar menunggu waktu, tapi menunggu kepastian.

“Kita masih menunggu keputusan Menteri Agama. Jika lebaran jatuh pada Sabtu, maka ini adalah tarawih terakhir. Dan malam ini tak ada tausiyah,” ujar Ketua Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Agung An-Nuur Luwuk, H. Asri Abasa, dengan suara tenang yang justru menambah kesyahduan suasana.

Tidak ada tausiyah. Tidak ada nasihat penutup Ramadan seperti biasanya. Hanya ada jeda panjang, seolah memberi ruang bagi hati untuk berbicara sendiri.

Tarawih Terakhir

Sekitar setengah jam berlalu, pengumuman itu akhirnya datang. Hasil sidang isbat menetapkan 1 Syawal 1447 H jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026. Malam itu resmi menjadi tarawih terakhir.

Jamaah shalat tarawih di Masjid Agung An-Nuur Luwuk, pada malam terakhir Ramadhan. (Foto Sofyan Labolo Luwuk Times)

Shalat pun mulai. Ustad Ibrahim Almahdali memimpin tarawih dengan lantunan ayat yang terdengar lebih lirih, lebih menyentuh. Sementara shalay witir oleh Ustad Jazuli Djamaluddin. Ia menutup rangkaian ibadah malam itu dengan doa-doa yang terasa lebih panjang, seakan enggan berpisah.

Di antara shaf yang tersisa, ada wajah-wajah yang tampak menunduk lebih lama. Ada mata yang berkaca-kaca. Bukan karena lelah, tapi karena sadar Ramadan benar-benar akan pergi.

Sebagian jamaah tersenyum syukur. Mereka masih diberi kesempatan menuntaskan ibadah hingga penghujung. Namun sisi lain, terselip rasa kehilangan yang sulit mereka sembunyikan.

Sebab tak ada yang tahu, apakah tahun depan mereka masih mendapatkan umur panjang untuk kembali bersujud pada bulan yang sama.

Baca Juga:  Sambut Idul Adha 1447 H, Pemkab Banggai Bakal Gelar Pawai Obor, Start-Finish di Masjid Agung An-Nuur Luwuk

Malam itu, Masjid Agung An-Nuur Luwuk bukan hanya menjadi tempat ibadah. Ia menjadi saksi bahwa ujung Ramadan, manusia belajar tentang dua hal yang paling sunyi. Keduanya adalah perpisahan dan harapan untuk kembali beramal pada bulan Ramadhan. *

Reporter Sofyan Labolo