LUWUK TIMES – Puluhan jamaah hadir pada kajian Subuh oleh Ustad Jazuli Djamaluddin, Rabu 18 Maret 2026, bertempat Masjid Agung An-Nuur Luwuk.
Dalam ceramahnya, ia mengajak umat Islam untuk menyelami tiga dimensi penting dalam kehidupan beragama: syariat, hakikat, dan makrifat.
Kajian ia awali dengan penjelasan tentang syariat sebagai fondasi utama ajaran Islam.
Syariat sebagai ilmu yang mengatur perintah dan larangan Allah SWT, baik yang langsung maupun melalui wahyu kepada para nabi.
“Syariat bukan sekadar aturan, tetapi pedoman hidup yang mengatur seluruh sendi kehidupan umat Islam, mulai dari ibadah hingga muamalah,” jelas Ustad Jazuli.
Untuk memperdalam pemahaman, ia juga mengangkat kisah Nabi Musa AS dan Nabi Khidir AS yang sarat hikmah.
Dalam kisah tersebut, Nabi Musa yang merasa paling berilmu diuji oleh Allah dengan dipertemukan dengan Nabi Khidir, seorang hamba yang diberi ilmu langsung oleh Allah.
Perjalanan keduanya penuh pelajaran. Nabi Musa diminta untuk tidak bertanya atas apa pun yang dilakukan Nabi Khidir.
Namun, ketika Nabi Khidir membunuh seorang anak kecil dan merobohkan sebuah rumah, Nabi Musa tidak mampu menahan diri untuk bertanya.
Ilmu Allah Jauh Lebih Luas
Pada akhir perjalanan, Nabi Khidir menjelaskan hikmah di balik perbuatannya: anak tersebut kelak akan menjadi durhaka, sementara rumah yang dirobohkan menyimpan harta anak yatim yang harus dilindungi dari pencuri.
“Kisah ini mengajarkan bahwa di atas ilmu manusia, masih ada ilmu Allah yang jauh lebih luas. Jangan pernah sombong dengan pengetahuan yang kita miliki,” tegasnya.
Lebih lanjut, Ustad Jazuli menekankan pentingnya memahami syariat secara benar.
Ia mencontohkan ibadah shalat yang memiliki rukun-rukun wajib seperti niat, takbiratul ihram, ruku, sujud, hingga duduk di antara dua sujud.
“Tanpa pemahaman yang benar, ibadah bisa kehilangan makna bahkan tidak sah,” ujarnya.
Jazuli juga mengingatkan bahwa kualitas ibadah sangat dipengaruhi oleh tingkat pemahaman seseorang.
Dalam sebuah kisah, Rasulullah SAW menyebutkan bahwa setan lebih mudah mengganggu orang yang beribadah tanpa ilmu dibandingkan orang yang tidur namun memiliki ilmu.
Tak hanya itu, ibadah haji pun menjadi contoh nyata. Menurutnya, seseorang yang memahami hakikat haji akan memiliki nilai ibadah yang jauh berbeda di sisi Allah dibandingkan mereka yang menjalankannya tanpa ilmu.
Kajian subuh ini berakhir dengan pesan agar umat Islam tidak hanya menjalankan syariat secara lahiriah, tetapi juga berusaha memahami hakikat dan mencapai makrifat.
Dengan demikian, ibadah tidak sekadar rutinitas, melainkan menjadi jalan mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Harapannya, kajian ini mampu meningkatkan kesadaran umat akan pentingnya ilmu dalam beribadah.
Termasuk menumbuhkan kerendahan hati dalam menuntut ilmu yang tiada batas. *
Reporter Sofyan Labolo



