LUWUK TIMES— Sebelum tahun 2024 Kabupaten Banggai Kepulauan (Bangkep), Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng), masih termasuk daerah yang tertinggal.
Baru Oktober 2024 Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) menetapkan Kabupaten Bangkep, bukan lagi kabupaten miskin dan terisolir.
Kabupaten Banggai Kepulauan, memiliki luas daratan 2.488,79 Km. Ada 12 kecamatan, 3 kelurahan dan 141 desa.
Dua belas kecamatan di Bangkep, semuanya terletak di Pulau Peling. Dua belas kecamatan yang ada sudah terkoneksi lewat jalan darat. Akan tetapi kondisi jalan sebagian besar masih buruk, sulit dilintasi dan membahayakan bagi pengguna jalan.
Hadirnya program Inpres jalan daerah (IJD), atau instruksi presiden (Inpres), berupa program peningkatan jalan ruas Alakasing-Patukuki di Peling Tengah, Kabupaten Bangkep, setidaknya telah memperpendek waktu tempuh sekaligus menggeliatkan perekonomian petani dan nelayan di Bangkep.
Lebih khusus untuk desa Patukuki, Koyobunga, Kolak, Balombong, Alakasing, Manggalai, Ambelang, Sayong dan Salakan.
PROGRAM IJD
Tahun 2025 Kabupaten Bangkep, yang kini “dinakhodai” duet Rusli Moidady-Serfi Kambey, mendapat kucuran 2 paket program IJD dari Kementerian Pekerjaan Umum (PU) pada Direktorat Jendral Bina Marga, balai pelaksana jalan negara (BPJN) Provinsi Sulawesi Tengah.
Pada satuan kerja (satker) pelaksana jalan wilayah III, dua paket IJD peningkatan jalan pada ruas Alakasing-Patukuki, untuk segmen 1 sepanjang 2.473 Km. Dengan nilai kontrak Rp.11.116.783.000 dilaksanakan oleh CV. Radiandhika Karya Utama.
Sementara segmen 2 sepanjang 2.586 Km dengan nilai kontrak Rp.11.339.750.000 pelaksananya CV. Jaya Putra.
Hasil pantauan Luwuk Times di Alakasing – Patukuki, Kamis (05/02/2026), pekerjaan segmen 2 yang ditangani CV Jaya Putra yakni pekerjaan aspal, bahu jalan, selokan, pasang batu dan marka jalan sudah rampung.
Segmen 1 yang ditangani CV Radiandhika Karya Utama. Pekerjaan aspal sudah selesai.
Adapun pekerjaan yang belum selesai, kini tengah dikebut berupa pengerjaan bahu jalan, plesteran pasangan batu serta marka jalan.
Ibrahim, Pejabat pembuat komitmen (PPK) menjelaskan, pekerjaan segmen 1 dapat selesai tepat waktu.
“Akhir Desember 2025 semua item pekerjaan segmen 2 sepanjang 2.586 Km mampu diselesaikan dengan baik,” jelas Ibrahim.
Untuk segmen 1 pengerjaan agak terlambat, karena AMP mereka mengalami kerusakan (trouble). Tertundanya pekerjaan aspal akhirnya berdampak pada pekerjaan lain.
Dan atas terjadinya keterlambatan, kepada kontraktor pelaksana diberi penambahan waktu 50 hari untuk dapat merampungkan pekerjaan. Ibrahim optimis sehari dua pekerjaan akan Klir semua.
Masih menurut Ibrahim, meski ada penambahan waktu kepada kontraktor pekerjaan tidak tepat waktu tetap kami jatuhkan sanksi denda. Adapun besaran denda sesuai ketentuan yang berlaku.
Disinggung soal kualitas aspal? Ibrahim mengaku aspal sudah diambil sampelnya dan sudah di tes di Lab Luwuk.
“Alhamdulillah, hasilnya masuk (baik),” ucapnya.
UJI LAB
Menjawab pertanyaan Jumat (06/02/2026) Candra, selaku kepala satuan kerja (Satker) pelaksana jalan wilayah III Sulteng menyebutkan, soal kualitas pekerjaan, utamanya aspal, sebelum pekerjaan pihaknnya menerima harus melewati uji Lab.
Penyampaian dari PPK uji aspal dilakukan di Luwuk. Adapun soal keterlambatan yang dilakukan CV Radiandhika Karya Utama, tentu akan dikenakan denda, yang besarnya akan dihitung oleh PPK jelas Candra.
Dua warga Bangkep, Samuel dan Ridwan mengaku senang dengan hadirnya program IJD yang telah merubah jalan Alakasing – Patukuki jadi mulus dan enak dilalui.
Kini warga mulai rajin bepergian ke luar desa, utamanya ke ibu kota kabupaten (Salakan). Mereka merasa nyaman, aman dan waktunya makin cepat.
“Dahulu dari Patukuki ke Salakan, butuh waktu lama dan sangat sulit. Sebab, jalan tanjakannya tinggi, berkelok-kelok juga berlubang. Warga sering mengalami kecelakaan, bahkan ada yang sampai meninggal. Sekarang, jalan sudah mulus dan enak dilalui,” ujar Ridwan.
Nilai positif lain, dengan makin baiknya jalan, mampu merubah kehidupan warga jadi maju dan dinamis.
Sebagai daerah penghasil ikan teri, dahulu warga Patukuki sulit memasarkan tangkapannya.
Hari ini jadi mudah. Akses jalan yang baik membuat mereka mudah mencapai pasar di Kota Salakan.
Tak cuma Ridwan yang senang dengan makin mulusnya jalan lewat program IJD, Samuel yang mengaku sebagai petani juga ikut gembira.
Sebab, sekarang bisa memasarkan hasil cocok tanamnya langsung ke Kota Salakan, dan nilainya makin ekonomis.
Samuel berharap program IJD bisa terus berlanjut, agar semua daerah di Bangkep bisa makin maju dan bisa merasakan hasil pembangunan yang dilakukan pemerintah. *
Reporter Setiyo Utomo


