“Kalau Partai Golkar tidak turun ke kampung-kampung, tidak mencium bau keringat rakyat, dan tidak menghapus air mata masyarakat, tidak mungkin bisa sampai 11 kursi”.
LUWUK TIMES — Suasana Rapat Pimpinan Daerah (Rapimda) DPD II Partai Golkar Kabupaten Banggai di Hotel Estrella Luwuk, Senin (22/12/2025), terasa berbeda.
Bukan hanya karena dihadiri jajaran pengurus dan kader, tetapi juga karena kehadiran dua tokoh penyelenggara pemilu, Ketua KPU Banggai Santo Gotia dan Ketua Bawaslu Banggai Ridwan, yang dipercaya menyampaikan materi.
Dipandu Sekretaris DPD II Partai Golkar Banggai, Irwanto Kulap, sebagai moderator, Santo dan Ridwan duduk berdampingan di hadapan peserta Rapimda.
Kesempatan pertama diberikan kepada Ketua KPU Banggai, Santo Gotia, yang menyampaikan materi pendidikan politik dengan gaya lugas dan penuh refleksi.
Santo mengawali pemaparannya dengan cerita sederhana namun bermakna. Ia mengaku tidak berpikir panjang menerima undangan Partai Golkar, meski jadwalnya padat dengan berbagai kegiatan lain.
“Ramdan datang ke kantor dan bilang, ‘Pak Ketua, Golkar mau Musda, kami minta Pak Ketua jadi narasumber’. Saya sebenarnya lagi sibuk dengan undangan Natal dan lainnya. Tapi karena diundang Golkar, saya tidak pikir panjang,” ujar Santo, disambut aplaous para peserta.
Menariknya, Santo mengaku hanya menampilkan satu dari dua slide yang telah ia siapkan. Baginya, satu slide tersebut sudah cukup untuk menjadi bahan refleksi sekaligus proyeksi masa depan Partai Golkar Banggai.
Dalam slide itu, Santo menampilkan data perolehan suara dan kursi Partai Golkar pada tiga pemilu legislatif terakhir.
Pada Pemilu 2014, Golkar meraih 42.456 suara dan mengamankan 9 kursi DPRD Banggai. Namun pada Pemilu 2019, perolehan tersebut turun menjadi 28.473 suara dengan 5 kursi.
Sebaliknya, lonjakan signifikan terjadi pada Pemilu 2024. Golkar berhasil meraih 63.818 suara dan mendulang 11 kursi DPRD Banggai.
“Saya mohon maaf kalau datanya keliru. Tapi setahu saya, ini adalah perolehan kursi terbanyak sepanjang sejarah Golkar di DPRD Banggai. Bahkan tertinggi di Sulawesi Tengah. Kader Golkar harus bangga,” tegas Santo.
Kerja Nyata Kader
Menurut Santo, capaian tersebut bukan hasil kerja instan atau sekadar strategi di atas kertas. Keberhasilan Golkar, kata dia, lahir dari kerja nyata para kader yang hadir langsung di tengah masyarakat.
“Kalau Partai Golkar tidak turun ke kampung-kampung, tidak mencium bau keringat rakyat, dan tidak menghapus air mata masyarakat, tidak mungkin bisa sampai 11 kursi,” ungkapnya dengan nada penuh penekanan.
Ia bahkan menyebut bahwa praktik politik seperti itulah bentuk pendidikan politik paling nyata, tanpa perlu teori yang berlebihan.
Tak hanya itu, Santo juga menyoroti pencapaian istimewa lainnya, yakni terpilihnya Ketua DPD II Partai Golkar Banggai, H. Beniyanto Tamoreka, sebagai anggota DPR RI.
“Kan itu. Terus pendidikan politik yang mana lagi yang mau kita cari? Ini sudah yang paling tinggi,” ujarnya.
Di akhir pemaparannya, Santo juga menyinggung momen kebersamaan KPU dan Bawaslu dalam forum Rapimda tersebut. Selama lebih dari dua tahun menjalankan tugas Pemilu dan Pilkada, ia mengaku jarang diundang bersama Ketua Bawaslu dalam satu forum partai politik.
“Rasa-rasanya baru di forum ini saya duduk lengkap dengan Ketua Bawaslu. Baru di sini. Golkar itu memang parpol perekat,” tutup Santo, memberikan sanjungan yang disambut antusias peserta Rapimda. *
Reporter Sofyan Labolo













