Advertisement

Opini

Kebijakan Rancu: Kejar Wisata Halal, SDA Diserahkan Ke Tangan Asing

1170
×

Kebijakan Rancu: Kejar Wisata Halal, SDA Diserahkan Ke Tangan Asing

Sebarkan artikel ini

Oleh: Indra Wati Pakaya

INDONESIA menjadi surga wisata halal dunia dengan meraih predikat Top Muslim Friendly Destination of The Year 2023 dalam Mastercard Crescent Rating Global Muslim Travel Index (GMTI) 2023 di Singapura.

“Kita mendapat hasil yang di luar dugaan, Indonesia berhasil ada di posisi pertama Global Muslim Travel Index,” kata Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Uno dalam keterangan resminya, Sabtu (3/6). 

Sandiaga mengatakan kenaikan ini merupakan suatu capaian yang luar biasa, dimana pada 2021, Indonesia berada di peringkat keempat dan kedua pada 2022.

Awalnya, ia menargetkan pada 2025 meraih peringkat pertama, namun ternyata pada 2023 ini tim yang mempersiapkan berhasil mengeksekusi beberapa program-program andalan, sehingga berada di posisi pertama.

Sandiaga mengungkapkan pencapaian ini merupakan hasil kolaborasi pihak-pihak terkait, khususnya Perkumpulan Pariwisata Halal Indonesia (PPHI), Halal In Travel, Mastercard Crescent, dan lainnya. (Kadata.co.id, 7-6-2023)

Baca:  Melawan di Hukum, Diam di Kubur

Merupakan suatu hal yang wajar jika Indonesia menduduki peringkat pertama, karena mayoritas penduduk terbesar adalah umat muslim.

Konsep wisata halal muncul di beberapa negara yang mempunyai jumlah populasi umat muslim cukup besar. Seperti Arab Saudi, Palestina, Turki, Uni Emirat Arab, Mesir, Malaysia dan Indonesia. 

Halal tourism atau wisata halal ini mengacu pada penyediaan produk dan layanan pariwisata yang memenuhi kebutuhan wisatawan muslim seperti tersedianya tempat ibadah yang mudah di jangkau, restoran halal, hotel halal, resort halal dan kebutuhan wisatawan muslim lainnya.

Namun pelabelan halal tersebut bukan berarti menghilangkan hal-hal yang haram. Sebab pengaturannya masih dalam lingkup sekularisme atau pemisahan agama dari kehidupan. Karena realitanya miras, diskotik, dan tempat hiburan lainnya masih menjadi pelengkap destinasi wisata tersebut.

Baca:  Mengumpulkan Kebiasaan Baik dan Mengurangi Kebiasaan Buruk

Pelabelan halal bukan dijadikan sebagai bentuk ibadah untuk menggapai ridho Allah, namun digunakan hanya untuk menarik wisatawan muslim saja. 

Wisata halal diprioritaskan sebagai salah satu sumber pemasukan negara padahal wisata berpotensi cukup buruk jika di jadikan tulang punggung perekonomian, mengingat wisata sangat rentan dengan kondisi alam, cuaca, dan politik sebuah negara. 

Sejatinya ada sumber yang jauh lebih besar hasilnya jika dikelola dengan benar, yaitu SDA (sumber daya alam). Seperti bahan tambang, batu bara, nikel, emas, tembaga dan lainnya. Namun sangat di sayangkan SDA tersebut justru diserahkan kepada perusahaan asing dan keuntungannya juga dinikmati oleh pihak asing.