Malam ke-7 Ramadan, Jamaah Masjid Agung An-Nuur Luwuk Terhanyut dalam Tausiah Tentang Dahsyatnya Tawasul

oleh -6 Dilihat
oleh
H. Jazuli Djamaluddin saat memberikan tausiah Ramadhan di Masjid Agung An-Nuur Luwuk, Selasa (24/02/2026) malam. (Foto Sofyan Labolo Luwuk Times)

LUWUK TIMES – Tausiah malam ke-7 Ramadan di Masjid Agung An-Nuur Luwuk diisi H. Jazuli Djamaluddin, Selasa (24/02/2026) malam.

Oleh Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Agung An-Nuur Luwuk, Jazuli mengangkat tema penting dan menyentuh hati: keutamaan bertawasul dan berdoa kepada Allah SWT.

Dalam ceramahnya, ia mengingatkan bahwa masih banyak umat yang merasa bangga dan sombong terhadap amal ibadahnya, seakan-akan surga adalah hasil dari usaha pribadi semata.

Padahal, menurutnya, keselamatan dan surga adalah murni karena rahmat Allah.

Jazuli mengisahkan riwayat tentang Imam Syafi’i.

Diceritakan, ketika ditanya mengapa ia masuk surga, Imam Syafi’i menyebutkan berbagai amalannya: hafal Al-Qur’an sejak usia 9 tahun, istiqamah puasa Senin-Kamis, serta menjaga puasa Ramadan.

Namun Allah menegaskan bahwa bukan semata-mata amalan itu yang memasukkannya ke surga.

Justru, dalam sebuah kisah penuh makna, disebutkan bahwa kesabaran beliau saat seekor lalat meminum tinta ketika sedang menulis kitab—tanpa diusirnya—menjadi sebab turunnya rahmat Allah.

Pesan yang ingin ditegaskan rahmat Allah jauh lebih menentukan daripada kebanggaan atas amal pribadi.

Tawasul: Menguatkan Doa Lewat Perantara

Jazuli menjelaskan, tawasul adalah doa yang dipanjatkan kepada Allah dengan perantara, terutama melalui Rasulullah SAW.

Baca Juga:  Sambut Idul Adha 1447 H, Pemkab Banggai Bakal Gelar Pawai Obor, Start-Finish di Masjid Agung An-Nuur Luwuk

Ia mengingatkan bahwa tawasul adalah bentuk kerendahan hati seorang hamba yang menyadari keterbatasannya.

Ia juga mengisahkan sahabat Nabi bernama Tsa’labah yang hidup dalam kemiskinan.

Setiap selesai shalat berjamaah, ia segera pulang karena hanya memiliki satu jubah yang harus bergantian dengan istrinya. Melalui doa Rasulullah, Allah kemudian melapangkan rezekinya.

Kisah ini menjadi bukti bahwa doa yang dipanjatkan dengan tawasul dan kerendahan hati dapat mengubah keadaan.

Menguatkan Hati dengan Asmaul Husna

Dalam tausiah tersebut, jamaah juga diajak untuk melazimkan Asmaul Husna.

Saat hati terasa keras dan hidup terasa sempit, melafalkan nama-nama Allah menjadi jalan kelembutan dan pertolongan.

“Panggil Allah dengan nama-Nya,” ujar beliau.

Seperti: Al-Kafi – Yang Maha Mencukupi. Ar-Razzaq – Yang Maha Pemberi Rezeki.

Dengan keyakinan penuh, Allah akan mencukupi dan melapangkan rezeki hamba-Nya.

Kisah Tiga Pemuda dalam Gua

Tausiah semakin menggugah dengan kisah tiga pemuda yang terperangkap di dalam gua karena tertutup batu besar.

Dalam keadaan genting, masing-masing berdoa kepada Allah dengan menyebut amal terbaik yang pernah mereka lakukan: berbakti kepada orang tua, menolak perbuatan zina karena takut kepada Allah, dan menjaga amanah.

Baca Juga:  Kadis PUPR Banggai Dewa Supatriagama Pastikan Jalan Rusak di Kawasan Masjid Agung Luwuk Diperbaiki

Dengan bertawasul melalui amal saleh mereka, Allah menggeser batu tersebut hingga mereka selamat.

Namun, H. Jazuli juga mengingatkan bahwa ada bentuk tawasul yang dilarang, yakni meminta berkah atau pertolongan kepada orang yang telah meninggal dunia. *

Reporter Sofyan Labolo