DI Kota Luwuk, ada kisah sunyi yang tak banyak terdengar. Namun diam-diam mengetuk nurani. Bukan tentang pejabat. Bukan pula tentang kuasa. Ini tentang seorang aktivis. Ia memilih berhenti sejenak dari kritik dan wacana. Lalu menunduk pada panggilan kemanusiaan.
SOFYAN LABOLO – LUWUK TIMES
NAMANYA Fadly AKTOR. Selama ini ia terkenal lantang menyuarakan kepentingan publik. Namun pada balik sikap kritisnya, tersimpan kepedulian yang tak mencari sorot kamera.
Perhatiannya tertuju pada Sofyan Yamani, pria 57 tahun yang hidup di jalanan. Warga kerap melihatnya mengais sampah, tidur di atas tembok, berpindah dari satu sudut kota ke sudut lain.
Tatapannya tajam, kadang membuat orang segan. Di lampu merah, di tepian Teluk Lalong, ia menjadi bagian dari pemandangan yang sering kali diabaikan.
Tak sedikit yang menoleh, tapi jarang yang benar-benar melihat.
Bagi Fadly, Sofyan bukan sekadar “orang jalanan”. Ia adalah manusia yang martabatnya tak boleh kita biarkan luruh oleh keadaan.
“Saya tidak bisa biarkan dia terus seperti itu,” ujar Fadly saat ditemui di warkop miliknya, Minggu (15/02/2026).
Tanpa banyak kata, Fadly bertindak. Ia mengajak Sofyan ke Warkop Pentras Alam Libero 77.
Ia memberinya makan, memotong rambutnya yang kusut, memandikannya, menyediakan pakaian layak. Bahkan tempat tinggal sementara.
Sudah lebih dari sebulan, Sofyan berada dalam pengawasan dan perhatian Fadly bersama istrinya, Nona.
Yang Fadly lakukan, bukan sekadar memberi nasi atau baju. Ia berupaya memulihkan rasa dihargai sesuatu yang sering hilang lebih dulu sebelum harta benda.
Di malam-malam hujan, ketika udara dingin menyergap kota, Fadly tak tega membayangkan Sofyan kembali ke “tembok derita”.
Ia memilih membuka pintu. Ia mendengarkan Sofyan, termasuk kalimat-kalimatnya yang sederhana namun mengandung makna dalam.
“Sebenarnya torang manusia ini di luar atau di dalam?” ucap Sofyan suatu ketika.
Fadly menyadari, mungkin ada luka batin yang tak kasatmata.
Karena itu, ia berencana membawa Sofyan ke dokter jiwa agar mendapat perawatan yang semestinya.
Baginya, kepedulian tak berhenti pada rasa iba, melainkan berlanjut pada tanggung jawab.

HAFAL SURAT AL-IKHLAS
Menariknya, kepedulian itu tak mengenal sekat keyakinan. Sofyan seorang Kristen. Bahkan hafal Surah Al-Ikhlas. Namun bagi Fadly, perbedaan bukan alasan untuk menjaga jarak.
“Soal agama itu pilihannya. Yang penting dia manusia,” tegasnya.
Nona, sang istri, turut ambil bagian. Ia menyiapkan pakaian dan makanan. Rekan-rekan sekitar warkop ikut berbagi.
Tetapi komitmen merawat setiap hari tetap berada di pundak Fadly dan Nona, tanpa keluhan, tanpa rasa bosan.
“Ini bukan sesuatu yang istimewa,” kata Fadly rendah hati. “Ini biasa saja. Ini kemanusiaan.”
Di tengah dunia yang sering sibuk menilai, kisah ini hadir sebagai pengingat: masih ada yang memilih peduli tanpa syarat, membantu tanpa pamrih.
Apa yang Fadly AKTOR lakoni, bukan hanya menyentuh hati. Tetapi juga menjadi cermin bagi semua pihak.
Termasuk OPD teknis bahwa di balik angka, program, dan laporan, ada manusia-manusia yang menunggu untuk benar-benar diperhatikan. *



