Dari Gerobak Keliling, Pelabuhan, dan Pesan Ayah: Keteguhan Mas Andri Menjaga Asa di Warung Waka Woke

oleh -10 Dilihat
oleh
Warung Waka Woke
Mas Andri bersama warung Waka Woke di KM 5 Luwuk Selatan, Minggu 15 Februari 2026. (Foto: Sofyan Labolo Luwuk Times)

LUWUK TIMES – Di bawah terik matahari Luwuk Selatan, sebuah gerobak mie ayam pernah menjadi saksi perjuangan panjang seorang lelaki bernama Mas Andri (35).

Sejak 2011, ia mendorong gerobaknya dari satu titik ke titik lain pelabuhan, Pasar Simpong, hingga depan ATM BRI Kilometer 5.

Roda-roda kayu itu bukan sekadar alat dagang, melainkan simbol tekad untuk berdiri di atas kaki sendiri.

“Pesan ayah saya, jangan hidup di bawah telunjuk orang,” kenangnya pelan, kepada Luwuk Times, Minggu 15 Februari 2026.

Tak berlebihan. Kalimat sederhana itu menjadi kompas hidupnya.

Tahun 2017, Mas Andri mulai berjualan mie ayam dengan lebih terarah.

Dari jualan keliling, ia kemudian menetap dan membangun lapak yang kini dikenal dengan nama Warung Waka Woke.

Sudah lebih dari dua tahun terakhir, ia mangkal di kawasan KM 5, Luwuk Selatan, menghadirkan beragam menu makanan dan minuman, dari yang panas hingga dingin.

Bulan Ramadan menjadi cerita tersendiri. Jadwal berubah, menyesuaikan denyut ibadah warga.

Warung buka pukul 14.00 WITA hingga menjelang berbuka puasa. Selepas salat tarawih, ia kembali melayani pembeli.

Baca Juga:  Humas Polres Banggai Gelar Coffee Morning Bersama Jurnalis Perkuat Kemitraan

“Kalau puasa, yang paling laku itu kelapa muda,” ujarnya sambil tersenyum.

 

BANGGAI LAUT

Sebelum menetap di Luwuk, Warung Waka Woke lebih dulu beroperasi di Kabupaten Banggai Laut.

Perpindahan itu bukan tanpa alasan. Ada harapan yang ingin diperluas, ada empat anak yang menjadi semangat utama di rumah.

Dalam hari biasa, ia membuka warung sejak pukul 10 pagi hingga Maghrib, lalu kembali berjualan hingga sekitar pukul 10 malam.

Waktu istirahatnya tak banyak, tetapi Mas Andri tetap menyisihkan ruang untuk keluarga dan kesehatan.

Ia gemar bermain bulu tangkis bersama sang istri cara sederhana menjaga kebugaran sekaligus kehangatan rumah tangga.

Tak hanya piawai meracik mie ayam, Mas Andri juga dikenal sebagai sosok multi talenta.

Ia bisa mengerjakan instalasi listrik, pertukangan, hingga membuat furnitur sendiri.

“Sekarang biaya tukang mahal. Kita harus dituntut belajar,” katanya mantap. Baginya, keterampilan adalah investasi. Belajar adalah keharusan.

Dari gerobak dorong hingga warung yang kian dikenal, perjalanan Mas Andri bukan sekadar soal berdagang.

Baca Juga:  “Satu Sekolah, Satu Saudara”, Alumni SMPN 1 Luwuk Angkatan 1993 Siap Gelar Reuni Penuh Kebersamaan

Ia sedang membuktikan bahwa pesan seorang ayah bisa menjadi warisan paling berharga tentang harga diri, kemandirian, dan keberanian menentukan arah hidup sendiri.

Di sudut KM 5 Luwuk Selatan, Warung Waka Woke bukan hanya tempat makan. Ia adalah cerita tentang kerja keras yang tak pernah padam. *

Reporter Sofyan Labolo