Suasana di Aula Maleo Polres Banggai pada Jumat (26/6/2026) mendadak hening, berganti dengan riak konsentrasi yang pekat. Di atas meja-meja yang berjejer, puluhan papan catur telah membentang. Di hadapannya, puluhan pasang mata menatap tajam, menimbang tiap jengkal langkah bidak kayu di tangan mereka.
BUKAN sedang mengusut perkara hukum, korps baju cokelat hari itu sedang menggelar hajatan besar. Agendanya berlabel Turnamen Catur Kapolres Banggai Cup.
Digelar dalam rangka memeriahkan Hari Bhayangkara ke-80, turnamen ini bukan sekadar ajang seru-seruan perayaan ulang tahun.
Tapi lebih dari itu, ada misi besar yang sedang digawangi oleh Polres Banggai, yakni berburu bibit-bibit maestro catur berbakat yang masih tersembunyi di bumi Banggai.
Strategi di Atas Papan, Filosofi dalam Kehidupan
Saat membuka turnamen, Kapolres Banggai AKBP Wayan Wayracana Aryawan melempar senyum hangat kepada para peserta.
Bagi perwira menengah ini, catur bukanlah permainan biasa. Ada filosofi mendalam di balik setiap gerakan pawn, knight, hingga queen.
“Olahraga catur memiliki banyak nilai positif yang dapat kita terapkan di kehidupan sehari-hari. Di sana ada kemampuan menyusun strategi, ketelitian, serta ketepatan dalam mengambil sebuah keputusan,” ujar AKBP Wayan lugas.
Melalui turnamen ini, AKBP Wayan ingin menegaskan bahwa Polri berkomitmen penuh mendukung pembinaan olahraga ke tingkat yang lebih serius.
Namun di sisi lain, ia juga ingin meruntuhkan sekat antara aparat dan warga. Papan catur sengaja digelar untuk menjadi jembatan silaturahmi, menciptakan ruang kompetisi yang sehat, sportif, namun tetap dibalut rasa persaudaraan yang erat.
Perang Saraf 77 Otak Selama Tiga Hari
Ketua Pelaksana yang juga menjabat sebagai Kapolsek Luwuk, AKP Muh. Asdar, mengungkapkan bahwa antusiasme masyarakat ternyata luar biasa.
Sebanyak 77 pecatur dari berbagai sudut wilayah di Kabupaten Banggai datang membawa ambisi dan strategi terbaik mereka.
Mereka akan saling berhadapan, memeras otak, dan menguji ketahanan mental selama tiga hari berturut-turut, mulai dari tanggal 26 hingga 28 Juni.
“Dukungan penuh dari Bapak Kapolres menjadi energi utama bagi kami. Ini adalah bagian penting dari program pembinaan berkelanjutan bagi para pecatur lokal,” ungkap AKP Muh. Asdar.
Targetnya pun jelas dan tidak main-main. Dari 77 peserta yang bertanding, diharapkan muncul wajah-wajah atlet potensial baru.
Mereka yang berhasil bertahan dari “perang saraf” di turnamen ini nantinya akan dipersiapkan, diasah, dan dibawa untuk mewakili nama Kabupaten Banggai di ajang yang lebih tinggi.
Di Aula Maleo, genderang perang sunyi itu telah ditabuh. Di atas kotak hitam-putih, langkah pertama telah diambil, dan sejarah baru pecatur Banggai sedang dimulai. *


